mencoba untuk merasakan apa yang sedang, telah dan akan terjadi untuk kemudian menuliskannya dalam sebuah blog pribadi ini. Selamat membaca

Archive for Februari, 2010

Al Biruni; Matematikawan, Fisikawan, Antropolog, Astronom, Ahli Farmasi, Ahli Geodesi, Filsuf, Pengembara, dan Guru

Salah satu bukti kemajuan yang dicapai oleh masa kejayaan Islam tempo dulu adalah berkembangnya ilmu pengetahuan. Dengan ilmuwan-ilmuwannya para sarjana muslim yang telah menuangkan ide-ide dan gagasan mengenai sebuah masalah yang sedang dipelajarinya. Kemudian mereka membukukan hasil karyanya itu ke dalam sebuah buku atau pun kitab. Yang berabad-abad telah menjadi rujukan bagi berbagai cabang ilmu pengetahuan. Saat ini ilmu pengetahuan modern telah dapat mengambil manfaat dari pengembangan ilmu yang dirintis oleh para ilmuwan serta sarjana Muslim tempo dulu ini.

Salah satu tokoh yang luar biasa besar jasanya terhadap dunia ilmu pengetahuan. Menjadi seorang peletak dasar beberapa ilmu pengetahuan. Dia adalah Al Biruni, beragam cabang ilmu pengetahuan dikuasainya, hal ini telah menjadikannya seorang tokoh ilmuwan yang dikagumi dan tercatat dalam sejarah sebagai ilmuwan terbesar Islam yang pernah ada. Perjalanan hidupnya disumbangkan untuk dunia ilmu pengetahuan, melakukan penelitian, pengkajian, dan kemudian beberapa hasil penelitiannya telah dibukukan. Dan menjadi sumber referensi bagi dunia pendidikan selama berabad-abad.

Memiliki nama lengkap Abu Rayhan Muhammad Ibnu Ahmad Al-Biruni, berasal dari abad ke-10 M (973 M). Lahir di kota Kath (ibu kota kerajaan Khawarizm Turkmenistan)sekarang adalah kota Khiva, di sekitar wilayah aliran Sungai Oxus, Uzbekistan. Nama Al Biruni sendiri berarti “asing” hal ini diambil dari nama daerah asalnya Turkmenistan. Karena pada saat itu Turkmenistan merupakan tempat yang dikhususkan bagi orang-orang asing. Dibesarkan dalam keluarga yang taat beragama dan tumbuh dewasa dalam lingkungan yang mencintai ilmu pengetahuan. Dengan demikian menjadikan Al Biruni, seorang ulama yang tawadlu ini gemar membaca dan menulis sejak remaja. Tak heran bila kemudian masih di usia muda ia sudah tersohor sebagai seorang ahli di banyak bidang ilmu.

    Berikut ini adalah riwayat singkatnya:

  • Pada usia 17 tahun, dia mulai menggeluti sains dengan serius. Dia menghitung garis lintang kota tempatnya tinggal dengan mengamati ketinggian maksimum matahari.
  • Di usia 20 tahun inilah Al Biruni mulai menulis beberapa karya di bidang sains.
  • Ketika berusia 22 tahun, dia menulis sejumlah karya pendek. Salah satunya yang masih bertahan hingga kini adalah Cartography, penelitiannya tentang perpetaan. Al-Biruni mengkaji berbagai macam peta yang ada pada saat itu dan menuliskan hasil studinya. Selain itu, dia membuat peta belahan bumi versinya sendiri.
  • Pada tahun 1017 M hingga 1030 M, Al-Biruni mendapat kesempatan untuk melancong ke India bersama tim ekspedisi Sultan Mahmoud, Al Biruni tak henti-hentinya mengais ilmu pengetahuan. Di sana ia belajar tentang seluk beluk India, kebudayaan atau adat istiadat, tulisan, bahasa, dan sejarah mengenai India. Selain itu, ia juga belajar filsafat Hindu pada sarjana setempat. Al Biruni membukukan hasil karyanya itu ke dalam sebuah buku yang berjudul Tarikhul Al Hindy. Karena hasil penelitiannya ini, Al Biruni dinobatkan sebagai ‘antropolog pertama’ seantero jagad.. Selama 13 tahun, sang ilmuwan Muslim itu mengkaji tentang seluk beluk India hingga melahirkan apa yang disebut indologi atau studi tentang India. Di negeri Hindustan itu, Al-Biruni mengumpulkan beragam bahan bagi penelitian monumental yang dilakukannya. Dia mengorek dan menghimpun sejarah, kebiasaan, keyakian atau kepecayaan yang dianut masyarakat di sub-benua India (http://www.gaulislam.com/al-biruni-ilmuwan-pendiri-tiga-ilmu). Dari kegiatannya ini, Al Biruni tercatat sebagai seorang antropolog pertama.
  • Pada saat menjelang akhir hayatnya, beliau dikunjungi oleh tetangganya yang merupakan ahli fiqih. Abu Rayhan masih dalam keadaan sadar, dan tatkala melihat sang ahli fiqih, dia bertanya kepadanya tentang hukum waris dan beberapa hal yang berhubungan dengannya. Sang ahli fiqih terkesima melihat seseorang yang sekarat masih tertarik dengan persoalan-persoalan tersebut. Abu Rayhan berkata, “Aku ingin bertanya kepadamu: mana yang lebih baik, meninggal dengan ilmu atau meninggal tanpanya?” Sang ahli fiqih menjawab, “Tentu saja lebih baik mengetahui dan kemudian meninggal.” Abu Rayhan berkata, “Untuk itulah aku menanyakan pertanyaanku yang pertama.” Beberapa saat setelah sang ahli fiqih tiba dirumahnya, tangisan duka mengatakan kepadanya bahwa Abu Rayhan telah meninggal dunia. (Murtaza Mutahhari: Khutbah Keagamaan) (http://umarhapsoro.blogdetik.com/index.php/archives/33)

Selama perjalanan hidupnya, beliau telah menghasilkan ratusan karya yang beberapa diantaranya masih dan sebagiannya sudah tidak ada lagi. Tidak dapat ternilai jasa-jasanya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan saat ini.

Sebuah ilustrasi fase bulan karya Abu Rayhan Muhammad Ibnu Ahmad Al-Biruni

kode html di belakang artikel ini (html code behind this article):

<p style=”text-align: justify;”>Salah satu bukti kemajuan yang dicapai oleh masa kejayaan Islam tempo dulu adalah berkembangnya ilmu pengetahuan. Dengan ilmuwan-ilmuwannya para sarjana muslim yang telah menuangkan ide-ide dan gagasan mengenai sebuah masalah yang sedang dipelajarinya. Kemudian mereka membukukan hasil karyanya itu ke dalam sebuah buku atau pun kitab. Yang berabad-abad telah menjadi rujukan bagi berbagai cabang ilmu pengetahuan. Saat ini ilmu pengetahuan modern telah dapat mengambil manfaat dari  pengembangan ilmu yang dirintis oleh para ilmuwan serta sarjana Muslim tempo dulu ini.</p>
<p style=”text-align: justify;”>Salah satu tokoh yang luar biasa besar jasanya terhadap dunia ilmu pengetahuan. Menjadi seorang peletak dasar beberapa ilmu pengetahuan. Dia adalah Al Biruni, beragam cabang ilmu pengetahuan dikuasainya, hal ini telah menjadikannya seorang tokoh ilmuwan yang dikagumi dan tercatat dalam sejarah sebagai ilmuwan terbesar Islam yang pernah ada. Perjalanan hidupnya disumbangkan untuk dunia ilmu pengetahuan, melakukan penelitian, pengkajian, dan kemudian beberapa hasil penelitiannya telah dibukukan.  Dan menjadi sumber referensi bagi dunia pendidikan selama berabad-abad.</p>
<p style=”text-align: justify;”>Memiliki nama lengkap <strong>Abu Rayhan Muhammad Ibnu Ahmad Al-Biruni</strong>, berasal dari abad ke-10 M (973 M). Lahir  di kota Kath (ibu kota kerajaan Khawarizm Turkmenistan)sekarang adalah kota Khiva, di sekitar wilayah aliran Sungai Oxus, Uzbekistan. Nama Al Biruni sendiri berarti “asing” hal ini diambil dari nama daerah asalnya Turkmenistan. Karena pada saat itu Turkmenistan merupakan tempat yang dikhususkan bagi orang-orang asing. Dibesarkan dalam keluarga yang taat beragama dan tumbuh dewasa dalam lingkungan yang mencintai ilmu pengetahuan. Dengan demikian menjadikan Al Biruni, seorang ulama yang tawadlu ini gemar membaca dan menulis sejak remaja. Tak heran bila kemudian masih di usia muda ia sudah tersohor sebagai seorang ahli di banyak bidang ilmu.</p>

<ul type=”circle”>Berikut ini adalah riwayat singkatnya:
<li style=”text-align: justify;”>Pada usia 17 tahun, dia mulai menggeluti sains dengan serius. Dia menghitung garis lintang kota tempatnya tinggal dengan mengamati ketinggian maksimum matahari.</li>
<li style=”text-align: justify;”>Di usia 20 tahun inilah Al Biruni mulai menulis beberapa karya di bidang sains.</li>
<li style=”text-align: justify;”>Ketika berusia 22 tahun, dia menulis sejumlah karya pendek. Salah satunya yang masih bertahan hingga kini adalah Cartography, penelitiannya tentang perpetaan. Al-Biruni mengkaji berbagai macam peta yang ada pada saat itu dan menuliskan hasil studinya. Selain itu, dia membuat peta belahan bumi versinya sendiri.</li>
<li style=”text-align: justify;”>Pada tahun 1017 M hingga 1030 M, Al-Biruni mendapat kesempatan untuk melancong ke India bersama tim ekspedisi Sultan Mahmoud, Al Biruni tak henti-hentinya mengais ilmu pengetahuan. Di sana ia belajar tentang seluk beluk India, kebudayaan atau adat istiadat, tulisan, bahasa, dan sejarah mengenai India. Selain itu, ia juga belajar filsafat Hindu pada sarjana setempat. Al Biruni membukukan hasil karyanya itu ke dalam sebuah buku  yang berjudul Tarikhul Al Hindy. Karena hasil penelitiannya ini, Al Biruni dinobatkan sebagai  ‘antropolog pertama’ seantero jagad.. Selama 13 tahun, sang ilmuwan Muslim itu mengkaji tentang seluk beluk India hingga melahirkan apa yang disebut indologi atau studi tentang India. Di negeri Hindustan itu, Al-Biruni mengumpulkan beragam bahan bagi penelitian monumental yang dilakukannya. Dia mengorek dan menghimpun sejarah, kebiasaan, keyakian atau kepecayaan yang dianut masyarakat di sub-benua India (http://www.gaulislam.com/al-biruni-ilmuwan-pendiri-tiga-ilmu). Dari kegiatannya ini, Al Biruni tercatat sebagai seorang antropolog pertama.</li>
<li style=”text-align: justify;”>Pada saat menjelang akhir hayatnya, beliau dikunjungi oleh tetangganya yang merupakan ahli fiqih. Abu Rayhan masih dalam keadaan sadar, dan tatkala melihat sang ahli fiqih, dia bertanya kepadanya tentang hukum waris dan beberapa hal yang berhubungan dengannya. Sang ahli fiqih terkesima melihat seseorang yang sekarat masih tertarik dengan persoalan-persoalan tersebut. Abu Rayhan berkata, “Aku ingin bertanya kepadamu: mana yang lebih baik, meninggal dengan ilmu atau meninggal tanpanya?” Sang ahli fiqih menjawab, “Tentu saja lebih baik mengetahui dan kemudian meninggal.” Abu Rayhan berkata, “Untuk itulah aku menanyakan pertanyaanku yang pertama.” Beberapa saat setelah sang ahli fiqih tiba dirumahnya, tangisan duka mengatakan kepadanya bahwa Abu Rayhan telah meninggal dunia. (Murtaza Mutahhari: Khutbah Keagamaan) (http://umarhapsoro.blogdetik.com/index.php/archives/33)</li>
</ul>
<p style=”text-align: justify;”>Selama perjalanan hidupnya, beliau telah menghasilkan ratusan karya yang beberapa diantaranya masih dan sebagiannya sudah tidak ada lagi. Tidak dapat ternilai jasa-jasanya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan saat ini.
<img title=”sumber: http://en.wikipedia.org” src=”http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/62/Lunar_eclipse_al-Biruni.jpg/800px-Lunar_eclipse_al-Biruni.jpg” alt=”" width=”50%” height=”50%” align=”center” /></p>
<p style=”text-align: center;”><em>Sebuah ilustrasi fase bulan karya Abu Rayhan Muhammad Ibnu Ahmad Al-Biruni</em></p>


Sapi Donor, Bukti Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Perkembangan ilmu pengetahuan saat ini sangatlah pesat. Banyak hal yang tak terduga terjadi menjadi sebuah realita yang tidak hanya dianggap sebagai suatu hal yang tabu. Masyarakat modern selalu berpikir untuk terus berusaha mensejahterakan dirinya dan orang lain dengan jalan yaitu mengkaji, melakukan penelitian, eksperimen, dan hasilnya adalah sebuah karya yang menembus batas nalar dan wow luar biasa. Akan tetapi seperti kebanyakan hal, semua yang ada di dunia ini selalu memiliki dua hal yang saling berlawanan. Tidak hanya dari dalam suatu hal itu sendiri tapi juga menyangkut suatu keikutsertaan yang menyertainya (dari luar).
Peradaban yang ada saat ini adalah bukti pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan. Salah satu yang menjadi perhatian di artikel ini adalah perkembangan di bidang genetika (rekayasa genetika). Dalam hal ini, ilmu yang mencakup tentang kehidupan makhluk hidup khususnya pewarisan sifat secara biologis. Para pakar atau ahli di bidang genetika ini berhasil menjadikan sel-sel pada makhluk hidup itu untuk kemudian merencanakan keadaan fisik suatu organisme sesuai dengan apa yang diinginkan. Berikut ini adalah salah satu contohnya:

sapi donor

sapi donor

Sapi ini direkayasa dengan tujuan sebagai penghasil susu dan penghasil embrio (embrio donor), akan tetapi seperti yang telah diuraikan pada paragraf pertama, di sisi lain, penerapan bioteknologi ini tidaklah menguntungkan bagi si sapi betina. Sapi betina jelas akan kesulitan untuk melakukan beberapa posisi tidak seperti yang lain. Di sisi lain juga, dengan adanya bioteknologi ini, dengan mudah manusia dapat mengambil embrionya dan tentu saja hal ini sangatlah menguntungkan.

kode html di belakang artikel ini (html code behind this article):

<p style=”text-align: justify;”><tt><big>Perkembangan ilmu pengetahuan saat ini sangatlah pesat. Banyak hal yang tak terduga terjadi menjadi sebuah realita yang tidak hanya dianggap sebagai suatu hal yang tabu. Masyarakat modern selalu berpikir untuk terus berusaha mensejahterakan dirinya dan orang lain dengan jalan yaitu mengkaji, melakukan penelitian, eksperimen, dan hasilnya adalah sebuah karya yang menembus batas nalar dan wow luar biasa. Akan tetapi seperti kebanyakan hal, semua yang ada di dunia ini selalu memiliki dua hal yang saling berlawanan. Tidak hanya dari dalam suatu hal itu sendiri tapi juga menyangkut suatu keikutsertaan yang menyertainya (dari luar).
Peradaban yang ada saat ini adalah bukti pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan. Salah satu yang menjadi perhatian di artikel ini adalah perkembangan di bidang genetika (rekayasa genetika). Dalam hal ini, ilmu yang mencakup tentang kehidupan makhluk hidup khususnya pewarisan sifat secara biologis. Para pakar atau ahli di bidang genetika ini berhasil menjadikan sel-sel pada makhluk hidup itu untuk kemudian merencanakan keadaan fisik suatu organisme sesuai dengan apa yang diinginkan. Berikut ini adalah salah satu contohnya:</big></tt></p>

<tt><big><a href=”http://nurhidayanto09.files.wordpress.com/2010/02/sapi-is.jpg”><img title=”sapi donor” src=”http://nurhidayanto09.files.wordpress.com/2010/02/sapi-is.jpg?w=112″ alt=”sapi donor” width=”112″ height=”109″ /></a></big></tt>

sapi donor

<p style=”text-align: justify;”><tt><big>Sapi ini direkayasa dengan tujuan sebagai penghasil susu dan penghasil embrio (embrio donor), akan tetapi seperti yang telah diuraikan pada paragraf pertama, di sisi lain, penerapan bioteknologi ini tidaklah menguntungkan bagi si sapi betina. Sapi betina jelas akan kesulitan untuk melakukan beberapa posisi tidak seperti yang lain. Di sisi lain juga, dengan adanya bioteknologi ini, dengan mudah manusia dapat mengambil embrionya dan tentu saja hal ini sangatlah menguntungkan.</big></tt></p>


PENGKATEGORIAN BERMASALAH

Berkaitan dengan 2 faktor yang sering dijumpai, yang pertama adalah faktor internal dan yang ke dua adalah pasangannya, yaitu faktor eksternal. Faktor pertama merupakan sebuah faktor yang kemunculannya berasal dari dalam atau berawal dari diri seseorang, akan tetapi faktor ini dalam prosesnya tidak secepat faktor eksternal dan memang faktor internal sering kali dipengaruhi oleh faktor eksternal yang begitu mudah dalam memasuki diri seseorang termasuk juga di dalamnya kerelatifan dari perspektif masing-masing. Namun, juga tidak sepenuhnya pengaruh dari faktor ke dua. Dalam kenyataannya, beberapa faktor internal merupakan sebuah penciptaan dari dalam diri seseorang itu sendiri. Dan mungkin sekali faktor internal ini menjadi faktor eksternal bagi sudut pandang orang lain. Faktor eksternal atau faktor ke dua, yaitu faktor yang begitu berat untuk dibendung. Seringkali suatu penolakan terhadap pengaruh dari faktor ini mengalami kegagalan dan memang lazimnya seseorang memang mudah membuka pintu dari pengaruh ini, terutama pengaruh dari suatu kebiasaan yang diamati pertama kali dan pengaruh dari sebuah pengulangan kejadian dalam kesehariannya.

Lalu, bagaimana jadinya jika pertemuan antara kedua faktor tersebut menghasilkan seseorang yang memiliki kecenderungan untuk melakukan suatu pengkategorian terhadap suatu hal atau peristiwa yang telah tertangkap panca inderanya?

Tanpa penjelasan tentang kedua faktor dari perspektif orang-orang yang memiliki kecenderungan ini, langsung saja kembali ke judul dari tulisan ini, yaitu tentang pengkategorian bermasalah.

Dalam hal ini, kata bermasalah berarti pada artikel ini adalah pembahasan dari segi yang memandang bahwa sebuah peristiwa ini sebagai sesuatu yang bermasalah walaupun pada akhirnya juga diutarakan tentang beberapa kebaikan yang jelas saja melenceng dari artian bermasalah pada umumnya tentu dari segi yang berbeda dari sebelumnya. Bukankah tidak salah jika ingin mencoba menyajikan sesuatu yang berimbang tanpa ada suatu pemihakan dalam hal tertentu.

Kecenderungan untuk melakukan pengkategorian terhadap sesuatu telah membuat seseorang menyerap apa yang telah dilakukan itu (pengkategorian). Menyerap ini juga bisa diartikan bahwa seseorang akan juga terpengaruh oleh apa yang ia lakukan sendiri. Lalu bermasalah yang manakah yang dimaksud? Pengkategorian yang telah dilakukan terhadap suatu kebiasaan terhadap 2 atau lebih daerah yang memiliki letak geografis yang berbeda. Sebenarnya tidaklah salah pengkategorian yang dilakukan ini, namun jumlah dan atau intensitas maupun kadar keterdegradasian sebuah pengkategorian inilah yang rasa-rasanya keterlaluan sehingga memberi dampak yang bermasalah bagi orang yang melakukannya. Beberapa masalah itu adalah kesulitan dalam menjadikan diri (mengambil peran atau posisi) termasuk anggota dalam suatu komunitas yang sebenarnya tidaklah terlalu sulit bagi orang lain.

Kecenderungan yang berlebih dalam melakukan pengkategorian inilah yang sebenarnya bermasalah, sehingga seseorang yang melakukannya akan mengalami kesulitan dan dilema dalam mengambil suatu keputusan untuk dirinya maupun untuk selain dirinya. Ada bagusnya juga pengkategorian seperti ini, dalam hal ini jika seseorang mampu menangkal pengaruh dari pengkategorian yang dilakukannya. Dengan demikian, pengkategorian yang telah dilakukan dapat dilakukan sebagai dasar atau acuan dalam menilai atau membaca suatu keadaan yang dimungkinkan mudah untuk ditebak dan mengetahui bagaimana antisipasi atau jalan keluarnya termasuk dalam membuat suatu perhitungan atau sebuah rencana.Bukankah ini luar biasa?! Namun sifatnya yang statis juga perlu disiasati, karena dengan mudah keadaan seseorang itu dapat berubah

kode html di belakang artikel ini (html code behind this article):

<p style=”text-align: justify;”>Berkaitan dengan 2 faktor yang sering dijumpai, yang pertama adalah faktor internal dan yang ke dua adalah pasangannya, yaitu faktor eksternal. Faktor pertama merupakan sebuah faktor yang kemunculannya berasal dari dalam atau berawal dari diri seseorang, akan tetapi faktor ini dalam prosesnya tidak secepat faktor eksternal dan memang faktor internal sering kali dipengaruhi oleh faktor eksternal yang begitu mudah dalam memasuki diri seseorang termasuk juga di dalamnya kerelatifan dari perspektif masing-masing. Namun, juga tidak sepenuhnya pengaruh dari faktor ke dua. Dalam kenyataannya, beberapa faktor internal merupakan sebuah penciptaan dari dalam diri seseorang itu sendiri. Dan mungkin sekali faktor internal ini menjadi faktor eksternal bagi sudut pandang orang lain. Faktor eksternal atau faktor ke dua, yaitu faktor yang begitu berat untuk dibendung. Seringkali suatu penolakan terhadap pengaruh dari faktor ini mengalami kegagalan dan memang lazimnya seseorang memang mudah membuka pintu dari pengaruh ini, terutama pengaruh dari suatu kebiasaan yang diamati pertama kali dan pengaruh dari sebuah pengulangan kejadian dalam kesehariannya.</p>
<p style=”text-align: justify;”>Lalu, bagaimana jadinya jika pertemuan antara kedua faktor tersebut menghasilkan seseorang yang memiliki kecenderungan untuk melakukan suatu pengkategorian terhadap suatu hal atau peristiwa yang telah tertangkap panca inderanya?</p>
<p style=”text-align: justify;”>Tanpa penjelasan tentang kedua faktor dari perspektif orang-orang yang memiliki kecenderungan ini, langsung saja kembali ke judul dari tulisan ini, yaitu tentang pengkategorian bermasalah.</p>
<p style=”text-align: justify;”>Dalam hal ini, kata bermasalah berarti pada artikel ini adalah pembahasan dari segi yang memandang bahwa sebuah peristiwa ini sebagai sesuatu yang bermasalah walaupun pada akhirnya juga diutarakan tentang beberapa kebaikan yang jelas saja melenceng dari artian bermasalah pada umumnya tentu dari segi yang berbeda dari sebelumnya. Bukankah tidak salah jika ingin mencoba menyajikan sesuatu yang berimbang tanpa ada suatu pemihakan dalam hal tertentu.</p>
<p style=”text-align: justify;”>Kecenderungan untuk melakukan pengkategorian terhadap sesuatu telah membuat seseorang menyerap apa yang telah dilakukan itu (pengkategorian). Menyerap ini juga bisa diartikan bahwa seseorang akan juga terpengaruh oleh apa yang ia lakukan sendiri. Lalu bermasalah yang manakah yang dimaksud? Pengkategorian yang telah dilakukan terhadap suatu kebiasaan terhadap 2 atau lebih daerah yang memiliki letak geografis yang berbeda. Sebenarnya tidaklah salah pengkategorian yang dilakukan ini, namun jumlah dan atau intensitas maupun kadar keterdegradasian sebuah pengkategorian inilah yang rasa-rasanya keterlaluan sehingga memberi dampak yang bermasalah bagi orang  yang melakukannya. Beberapa masalah itu adalah kesulitan dalam menjadikan diri (mengambil peran atau posisi) termasuk anggota dalam suatu komunitas yang sebenarnya tidaklah terlalu sulit bagi orang lain.</p>
<p style=”text-align: justify;”>Kecenderungan yang berlebih dalam melakukan pengkategorian inilah yang sebenarnya bermasalah, sehingga seseorang yang melakukannya akan mengalami kesulitan dan dilema dalam mengambil suatu keputusan untuk dirinya maupun untuk selain dirinya. Ada bagusnya juga pengkategorian seperti ini, dalam hal ini jika seseorang mampu menangkal pengaruh dari pengkategorian yang dilakukannya. Dengan demikian, pengkategorian yang telah dilakukan dapat dilakukan sebagai dasar atau acuan dalam menilai atau membaca suatu keadaan yang dimungkinkan mudah untuk ditebak dan mengetahui bagaimana antisipasi atau jalan keluarnya termasuk dalam membuat suatu perhitungan atau sebuah rencana.<big>Bukankah ini luar biasa?!</big> Namun sifatnya yang statis juga perlu disiasati, karena dengan mudah keadaan seseorang itu dapat berubah</p>


APA YANG DIHASILKAN DI KOPENHAGEN?

cop15


Kerusakan lingkungan semakin menjadi, hal itu berdampak besar terhadap perubahan iklim yang terjadi di berbagai belahan bumi saat ini. Istilah yang sering digunakan akibat dari kerusakan itu adalah “pemanasan global” atau “global warming” dalam bahasa asing. Timbul sebagai dampak dari pembuangan emisi karbondioksida besar-besaran oleh aktivitas industri, transportasi, dan lainnya. Termasuk penggusuran lahan bagi tumbuh-tumbuhan terutama di daerah tropis yang menjadi penghasil ozon terbesar di bumi. Lahan–lahan tersebut diganti oleh pohon-pohon beton yang menjulang tinggi dan menandai bagaimana kemajuan suatu bangsa itu sendiri.

Sebenarnya, bagaimana pemanasan global itu? Pemanasan global adalah naiknya suhu rata-rata permukaan bumi akibat panas matahari yang terperangkap oleh karbondioksida yang melebihi kadar batas normal. Panas matahari yang seharusnya dapat dipantulkan lagi ke luar angkasa oleh atmosfer itu, kini terperangkap di lapisan atmosfer bumi. Dengan demikian suhu rata-rata bumi pun naik hingga satu derajat celcius per tahun dan juga menyebabkan naiknya permukaan air laut kira-kira 15 cm. Naiknya suhu rata-rata ini menyerupai efek yang biasa dirasakan ketika sedang berada di dalam rumah kaca, oleh sebab itu juga ada istilah “efek rumah kaca” atau “greenhouse effect”. Banyak kehidupan yang ada saat ini sangat terganggu dengan semakin tingginya suhu rata-rata di bumi ini. Jika pencemaran, perburuan, atau yang lainnya mungkin hanya akan mengganggu satu atau beberapa ekologi saja, maka pemanasan global dapat mengganggu ekosistem atau ekologi secara keseluruhan. Dan itu berarti permasalahan ini bukanlah persoalan yang bisa disepelekan begitu saja, karena hal ini menyangkut perubahan iklim yang tentu dampaknya amat serius bagi kehidupan.

Dalam permasalahan yang serius ini, memang sudah dilakukan upaya-upaya sejak masalah ini belum terlalu serius diurusi seperti sekarang. Protokol-protokol, undang-undang, serta peraturan lainnya telah dibuat untuk mengatur segala kemungkinan yang mungkin ditimbulkan akibat dari kegiatan yang dapat menimbulkan bahaya terhadap lingkungan. Khususnya negara-negara maju yang merupakan penghasil emisi gas karbondioksida terbesar ini seharusnya lebih serius dibanding negara berkembang dan berupaya memunculkan ide-ide yang dapat mengatasi permasalahan yang sedang terjadi ini. Dan kembali lagi, permasalahan tentang perubahan iklim.

Dilatar belakangi oleh peristiwa-peristiwa itu juga karena hampir habisnya masa berlaku protokol Kyoto tahun 2012 serta melanjuti pertemuan dua tahun lalu di Bali. Beberapa realisasi telah dilakukan dari pertemuan-pertemuan internasional yang telah dilakukan. Dan untuk menanggapinya juga maka di penghujung tahun 2009 ini juga diadakan pertemuan yang bertempat di Copenhagen, Denmark (Cop15). Berupaya mendapatkan sebuah kesepakatan yang bisa mengatasi masalah yang ada saat ini.

Topik tentang perubahan iklim menjadi masalah yang hangat di Kopenhagen, Denmark beberapa waktu yang lalu. Delegasi-delegasi dari berbagai negara berkumpul untuk membahas masalah yang menyangkut masa depan bumi tempat mereka dan semua orang sekarang tinggal. Pertemuan ini berlangsung selama dua minggu, dan diikuti oleh 192 negara. Pasukan-pasukan telah disiapkan untuk menghadapi segala ancaman atau gangguan dari luar.Pertemuan ini hingga hari ke-7 belum juga mencapai kesepakatan, padahal mereka telah mencapai separuh waktu. Pertemuan ini juga diwarnai dengan walkout para peserta dan juga beberapa insiden yang tidak menyenangkan lainnya.

Sementara itu, delegasi Indonesia diwakili oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. SBY datang dengan ambisi memainkan peran besar sebagai mediator antara negara-negara kaya dan negara-negara miskin. Akan tetapi rencana yang dibuat itu tidak berjalan seperti yang diinginkan. Nyatanya Indonesia tidak terlalu memainkan peran besar sebagai jembatan antar negara maju dan berkembang. Bahkan dalam liputan media internasional pun peran Indonesia jarang disebut. Padahal orang-orang menaruh harapan besar pada presiden untuk bisa menunjukkan diplomasi kuat selama konferensi berlangsung. Apalagi, sebenarnya Indonesia memiliki daya tawar yang kuat dibanding negara lain karena Indonesia adalah negara kepulauan dan memiliki wilayah hutan yang luas. Seharusnya Indonesia mau mengambil sikap yang tegas dan sikap yang jelas sejak awal konferensi serta mampu menjadi pemimpin bagi negara-negara berkembang untuk saling tawar-menawar dengan negara-negara maju.

Dan akhirnya di hari terakhir pertemuan tingkat tinggi ini berhasil membuat beberapa keputusan berupa poin-poin, akan tetapi hasil kesepakatan itu nyatanya tidak mengikat bagi para penghasil emisi dan sebagainya secara hukum serta tidak adanya target yang menyatakan berapa persen pengurangan emisi gas rumah kaca untuk selanjutnya. Ada yang menilai bahwa pertemuan kali ini mendekati gagal atau di pinggir jurang kegagalan.

kode html di belakang artikel ini (html code behind this article):

<div style=”border: 10px ridge lime; padding: 20px;”>
<p style=”text-align: center;”><img title=”cop15″ src=”http://www.denmark.net/files/images/cop15.png” alt=”cop15″ width=”70%” height=”70%” align=”center” /></p> 

<div style=”text-align: justify;”><span style=”font-family: ”snap;”>
</span><span style=”font-family: ”snap;”>Kerusakan lingkungan semakin menjadi, hal itu berdampak besar terhadap perubahan iklim yang terjadi di berbagai belahan bumi saat ini. Istilah yang sering digunakan akibat dari kerusakan itu adalah “pemanasan global” atau <em>“global warming”</em> dalam bahasa asing. Timbul sebagai dampak dari pembuangan emisi karbondioksida besar-besaran oleh aktivitas industri, transportasi, dan lainnya. Termasuk penggusuran lahan bagi tumbuh-tumbuhan terutama di daerah tropis yang menjadi penghasil ozon terbesar di bumi. Lahan–lahan tersebut diganti oleh pohon-pohon beton yang menjulang tinggi dan menandai bagaimana kemajuan suatu bangsa itu sendiri. </span>

<span style=”font-family: ”snap;”>Sebenarnya, bagaimana pemanasan global itu? Pemanasan global adalah naiknya suhu rata-rata permukaan bumi akibat panas matahari yang terperangkap oleh karbondioksida yang melebihi kadar batas normal. Panas matahari yang seharusnya dapat dipantulkan lagi ke luar angkasa oleh atmosfer itu, kini terperangkap di lapisan atmosfer bumi. Dengan demikian suhu rata-rata bumi pun naik hingga satu derajat celcius per tahun dan juga menyebabkan naiknya permukaan air laut kira-kira 15 cm. Naiknya suhu rata-rata ini menyerupai efek yang biasa dirasakan ketika sedang berada di dalam rumah kaca, oleh sebab itu juga ada istilah “efek rumah kaca” atau <em>“greenhouse effect”</em>. Banyak kehidupan yang ada saat ini sangat terganggu dengan semakin tingginya suhu rata-rata di bumi ini. Jika pencemaran, perburuan, atau yang lainnya mungkin hanya akan mengganggu satu atau beberapa ekologi saja, maka pemanasan global dapat mengganggu ekosistem atau ekologi secara keseluruhan. Dan itu berarti permasalahan ini bukanlah persoalan yang bisa disepelekan begitu saja, karena hal ini menyangkut perubahan iklim yang tentu dampaknya amat serius bagi kehidupan. </span>

<span style=”font-family: ”snap;”>Dalam permasalahan yang serius ini, memang sudah dilakukan upaya-upaya sejak masalah ini belum terlalu serius diurusi seperti sekarang. Protokol-protokol, undang-undang, serta peraturan lainnya telah dibuat untuk mengatur segala kemungkinan yang mungkin ditimbulkan akibat dari kegiatan yang dapat menimbulkan bahaya terhadap lingkungan. Khususnya negara-negara maju yang merupakan penghasil emisi gas karbondioksida terbesar ini seharusnya lebih serius dibanding negara berkembang dan berupaya memunculkan ide-ide yang dapat mengatasi permasalahan yang sedang terjadi ini. Dan kembali lagi, permasalahan tentang perubahan iklim. </span>

<span style=”font-family: ”snap;”>Dilatar belakangi oleh peristiwa-peristiwa itu juga karena hampir habisnya masa berlaku protokol Kyoto tahun 2012 serta melanjuti pertemuan dua tahun lalu di Bali. Beberapa realisasi telah dilakukan dari pertemuan-pertemuan internasional yang telah dilakukan. Dan untuk menanggapinya juga maka di penghujung tahun 2009 ini juga diadakan pertemuan yang bertempat di Copenhagen, Denmark (Cop15). Berupaya mendapatkan sebuah kesepakatan yang bisa mengatasi masalah yang ada saat ini. </span>

<span style=”font-family: ”snap;”>Topik tentang perubahan iklim menjadi masalah yang hangat di Kopenhagen, Denmark beberapa waktu yang lalu. Delegasi-delegasi dari berbagai negara berkumpul untuk membahas masalah yang menyangkut masa depan bumi tempat mereka dan semua orang sekarang tinggal. Pertemuan ini berlangsung selama dua minggu, dan diikuti oleh 192 negara. Pasukan-pasukan telah disiapkan untuk menghadapi segala ancaman atau gangguan dari luar.Pertemuan ini hingga hari ke-7 belum juga mencapai kesepakatan, padahal mereka telah mencapai separuh waktu. Pertemuan ini juga diwarnai dengan walkout para peserta dan juga beberapa insiden yang tidak menyenangkan lainnya.</span>

<span style=”font-family: ”snap;”>Sementara itu, delegasi Indonesia diwakili oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. SBY datang dengan ambisi memainkan peran besar sebagai mediator antara negara-negara kaya dan negara-negara miskin. Akan tetapi rencana yang dibuat itu tidak berjalan seperti yang diinginkan. Nyatanya Indonesia tidak terlalu memainkan peran besar sebagai jembatan antar negara maju dan berkembang. Bahkan dalam liputan media internasional pun peran Indonesia jarang disebut. Padahal orang-orang menaruh harapan besar pada presiden untuk bisa menunjukkan diplomasi kuat selama konferensi berlangsung. Apalagi, sebenarnya Indonesia memiliki daya tawar yang kuat dibanding negara lain karena Indonesia adalah negara kepulauan dan memiliki wilayah hutan yang luas. Seharusnya Indonesia mau mengambil sikap yang tegas dan sikap yang jelas sejak awal konferensi serta mampu menjadi pemimpin bagi negara-negara berkembang untuk saling tawar-menawar dengan negara-negara maju. </span>
<p style=”text-align: justify;”><span style=”font-family: ”snap;”>Dan akhirnya di hari terakhir pertemuan tingkat tinggi ini berhasil membuat beberapa keputusan berupa poin-poin, akan tetapi hasil kesepakatan itu nyatanya tidak mengikat bagi para penghasil emisi dan sebagainya secara hukum serta tidak adanya target yang menyatakan berapa persen pengurangan emisi gas rumah kaca untuk selanjutnya.  Ada yang menilai bahwa pertemuan kali ini mendekati gagal atau di pinggir jurang kegagalan. </span></p>
<span style=”font-family: ”snap;”> </span>

</div>
</div>