Perbandingan Pelaksanaan Pemilu di Indonesia
PERBANDINGAN PELAKSANAAN
PEMILU DI INDONESIA
| Macam | 1. Undang-undang | 2. Organisasi Peserta Pemilu | 3. Jumlah kursi | 4. Lembaga Penyelenggara | 5. Asas pemilu | 6. Sistem Pemilu | 7. Tanggal Pelaksanaan |
| Pemilu 1955 |
|
108 parpol, ormas dan perseorangan | DPR = 272 Konstituante = 542 |
Pemerintah | Umum,berkesamaan, langsung, rahasia dan bebas | Sistem proporsional atau perwakilan berimbang |
|
| Pemilu 1971 |
|
10 parpol | DPR = 460 360 dipilih, 25 diangkat dari perseorangan, 75 ABRI MPR = 920 |
LPU | LUBER | Gabungan sistem distrik dan proporsional |
|
| Pemilu 1977, 1982 |
|
3 parpol | DPR = 460 MPR = 920 |
LPU | LUBER | Gabungan sistem distrik dan proporsional |
|
| Pemilu 1987,1992,1997 |
|
3 parpol | DPR = 500 MPR = 1000 Th. 1997 DPR = 425, ABRI = 75, UD = 149, UG = 100, imbanganMPR = 251 |
LPU | LUBER | Gabungan sistem distrik dan proporsional 1997 dengan sistem proporsional berdasarkan stelsel daftar |
|
| Pemilu 1999 |
|
48 parpol | DPR = 500 MPR = 700 DPR = 462 TNI/Polri = 38 UD = 135 UG = 65 |
KPU/PPI | LUBER JURDIL | DPR =sistem proporsional terbuka DPD = sistem distrik berwakil banyak |
|
| Pemilu 2004 |
|
24 parpol | DPR = 550 DPD = 128 |
KPU | LUBER JURDIL | DPR =sistem proporsional terbuka DPD = sistem distrik berwakil banyak Pilpres dengan suara terbanyak absolut |
|
| Pemilu 2009 |
|
38 parpol | DPR = 560 DPD = 132 |
KPU | LUBER JURDIL | DPR =sistem proporsional terbukaDPD = sistem distrik berwakil banyak
Pilpres dengan suara terbanyak absolut |
|
Secara garis besar pemilu di Indonesia ada 3 berdasarkan masa atau orde di Indonesia, yaitu:
- Orde lama, yaitu pemilu yang dilaksanakan pada tahun 1955. Untuk dua keperluan, yaitu memilih anggota DPR(260 kursi/29 September 1955) dan memilih anggota Dewan Konstituante(520 kursi/15 Desember 1955) dan merupakan pemilu pertama serta pemilu yang menjadi catatan emas sejarah Indonesia.
- Orde baru:
- Pemilu 1971, pada tahun ini asas jujur dan kebersamaan mulai ditiadakan dan
diganti dengan LUBER - Pemilu 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997; di tahun-tahun ini, pemilu hanya diikuti oleh 3 partai politik yang merupakan gabungan
dari beberapa partai berdasarkan UU No. 3 Tahun 1975 tentang Partai Politik dan Golkar. Dua partai yang lain adalah PPP dan PDI.
- Pemilu 1971, pada tahun ini asas jujur dan kebersamaan mulai ditiadakan dan
- Reformasi:
- Pemilu 1999, peserta Pemilu kali ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, pemilu kali ini diikuti oleh 48 partai. Ini sudah jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah partai yang ada dan terdaftar di Departemen Kehakiman dan HAM, yakni 141 partai.
- Pemilu 2004, berlangsung tiga tahap(legislatif/DPR, Presiden/wapres, Presiden/wapres II). Pada pemilu ini, rakyat dapat memilih presiden dan wakil presiden secara langsung.
- Pemilu 2009, undang-undang memberlakukan cara mencentang dengan bolpen setelah sebelumnya beristilah nyoblos

kode html di belakang artikel ini (html code behind this article):
<div style=”border: 1px solid #999999; background: #ffffff none repeat scroll 0 0; margin: -1px -1px 0; padding: 0;”>
<div style=”border: 1px solid #999999; background: #dddddd none repeat scroll 0 0; font-family: arial,sans-serif; font-style: normal; font-variant: normal; font-size: 13px; line-height: normal; color: #000000; font-weight: normal; text-align: left; margin: 12px; padding: 8px;”>
<p style=”text-align: center;”><span style=”font-family: Arial; font-size: small;”><strong> </strong><strong>PERBANDINGAN</strong> <strong>PELAKSANAAN</strong>
<strong>PEMILU</strong> <strong>DI</strong> <strong>INDONESIA</strong></span></p></div>
</div>
<div>
<div style=”border: 1px solid #323232; overflow: auto; width: 100%; height: 300px;”>
<table border=”2″ cellspacing=”0″ width=”1104″>
<tbody>
<tr align=”center” valign=”top” bgcolor=”#c0c0c0″>
<td>Macam</td>
<td>1. Undang-undang</td>
<td>2. Organisasi Peserta Pemilu</td>
<td>3. Jumlah kursi</td>
<td>4. Lembaga Penyelenggara</td>
<td>5. Asas pemilu</td>
<td>6. Sistem Pemilu</td>
<td>7. Tanggal Pelaksanaan</td>
</tr>
<tr align=”center”>
<td>Pemilu 1955</td>
<td><acronym title=”Pemilu 1955″></acronym>
<li>UU N0. 7 tahun 1953 tentang pemilu</li>
</td>
<td><acronym title=”Pemilu 1955″>108 parpol, ormas dan perseorangan</acronym></td>
<td><acronym title=”Pemilu 1955″>DPR = 272
Konstituante = 542</acronym></td>
<td><acronym title=”Pemilu 1955″>Pemerintah</acronym></td>
<td><acronym title=”Pemilu 1955″>Umum,berkesamaan, langsung, rahasia dan bebas</acronym></td>
<td><acronym title=”Pemilu 1955″>Sistem proporsional atau perwakilan berimbang</acronym></td>
<td>
<li>29 September 1955</li>
<li>15 Desember 1955</li>
</td>
</tr>
<tr align=”center”>
<td>Pemilu 1971</td>
<td><acronym title=”Pemilu 1971″></acronym>
<li>UU N0. 15 tahun 1969 tentang pemilu UU N0. 16 tahun 1969 tentang susduk MPR/DPR</li>
</td>
<td><acronym title=”Pemilu 1971″>10 parpol</acronym></td>
<td><acronym title=”Pemilu 1971″>DPR = 460
360 dipilih, 25 diangkat dari perseorangan, 75 ABRI
MPR = 920</acronym></td>
<td><acronym title=”Pemilu 1971″>LPU</acronym></td>
<td><acronym title=”Pemilu 1971″>LUBER</acronym></td>
<td><acronym title=”Pemilu 1971″>Gabungan sistem distrik dan proporsional</acronym></td>
<td>
<li>5 Juli 1971</li>
</td>
</tr>
<tr align=”center”>
<td>Pemilu 1977, 1982</td>
<td><acronym title=”Pemilu 1977, 1982″></acronym>
<li>UU N0. 4 tahun 1975 tentang pemilu</li>
<li>UU N0. 5 tahun 1975 tentang susduk MPR/DPR</li>
<li>UU N0. 2 tahun 1980 mengganti UU N0. 4 tahun 1975</li>
</td>
<td><acronym title=”Pemilu 1977, 1982″>3 parpol</acronym></td>
<td><acronym title=”Pemilu 1977, 1982″>DPR = 460
MPR = 920</acronym></td>
<td><acronym title=”Pemilu 1977, 1982″>LPU</acronym></td>
<td><acronym title=”Pemilu 1977, 1982″>LUBER</acronym></td>
<td><acronym title=”Pemilu 1977, 1982″>Gabungan sistem distrik dan proporsional</acronym></td>
<td>
<li>2 Mei 1977</li>
<li>4 Mei 1982</li>
</td>
</tr>
<tr align=”center”>
<td>Pemilu 1987,1992,1997</td>
<td><acronym title=”Pemilu 1987,1992,1997″></acronym>
<li>UU N0. 1 tahun 1985 tentang pemilu</li>
<li>UU N0. 2 tahun 1985 tentang susduk MPR/DPR</li>
<li>UU N0. 5 tahun 1995 mengganti UU N0. 2 tahun 1985</li>
</td>
<td><acronym title=”Pemilu 1987,1992,1997″>3 parpol</acronym></td>
<td><acronym title=”Pemilu 1987,1992,1997″>DPR = 500
MPR = 1000
Th. 1997
DPR = 425, ABRI = 75, UD = 149, UG = 100, imbanganMPR = 251</acronym></td>
<td><acronym title=”Pemilu 1987,1992,1997″>LPU</acronym></td>
<td><acronym title=”Pemilu 1987,1992,1997″>LUBER</acronym></td>
<td><acronym title=”Pemilu 1987,1992,1997″>Gabungan sistem distrik dan proporsional
1997 dengan sistem proporsional berdasarkan stelsel daftar</acronym></td>
<td>
<li>23 April 1987</li>
<li>9 Juni 1992</li>
<li>29 Mei 1997</li>
</td>
</tr>
<tr align=”center”>
<td>Pemilu 1999</td>
<td><acronym title=”Pemilu 1999″></acronym>
<li>UU N0. 3 tahun 1999 tentang pemilu</li>
<li>UU N0. 4 tahun 1999 tentang susduk MPR/DPR</li>
</td>
<td><acronym title=”Pemilu 1999″>48 parpol</acronym></td>
<td><acronym title=”Pemilu 1999″>DPR = 500
MPR = 700
DPR = 462
TNI/Polri = 38
UD = 135
UG = 65</acronym></td>
<td><acronym title=”Pemilu 1999″>KPU/PPI</acronym></td>
<td><acronym title=”Pemilu 1999″>LUBER JURDIL</acronym></td>
<td><acronym title=”Pemilu 1999″>DPR =sistem proporsional terbuka
DPD = sistem distrik berwakil banyak</acronym></td>
<td>
<li>7 Juni 1999</li>
</td>
</tr>
<tr align=”center”>
<td>Pemilu 2004</td>
<td><acronym title=”Pemilu 2004″></acronym>
<li>UU N0. 12 tahun 2003 tentang pemilu</li>
<li>UU N0. 22 tahun 2003 tentang susduk MPR,DPR,DPRD, dan DPD</li>
<li>UU N0. 23 tahun 2003 tentang Pilpres/Wapres</li>
</td>
<td><acronym title=”Pemilu 2004″>24 parpol</acronym></td>
<td><acronym title=”Pemilu 2004″>DPR = 550
DPD = 128 </acronym></td>
<td><acronym title=”Pemilu 2004″>KPU</acronym></td>
<td><acronym title=”Pemilu 2004″>LUBER JURDIL</acronym></td>
<td><acronym title=”Pemilu 2004″>DPR =sistem proporsional terbuka
DPD = sistem distrik berwakil banyak
Pilpres dengan suara terbanyak absolut</acronym></td>
<td>
<li>5 April 2004</li>
<li>5 Juli/20 September 2004</li>
</td>
</tr>
<tr align=”center”>
<td>Pemilu 2009</td>
<td><acronym title=”Pemilu 2009″></acronym>
<li>UU N0. 10 tahun 2008 tentang pemilu</li>
<li>UU N0. 22 tahun 2003 tentang susduk MPR,DPR,DPRD, dan DPD</li>
<li>UU 42/2008 tentang Pemilihan Presiden</li>
</td>
<td><acronym title=”Pemilu 2009″>38 parpol</acronym></td>
<td><acronym title=”Pemilu 2009″>DPR = 560
DPD = 132</acronym></td>
<td><acronym title=”Pemilu 2009″>KPU</acronym></td>
<td><acronym title=”Pemilu 2009″>LUBER JURDIL</acronym></td>
<td><acronym title=”Pemilu 2009″>DPR =sistem proporsional terbuka</acronym>DPD = sistem distrik berwakil banyakPilpres dengan suara terbanyak absolut</td>
<td>
<li>9 April 2009</li>
<li> 8 Juli 2009</li>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
</div>
<p style=”text-align: justify;”>Secara garis besar pemilu di Indonesia ada 3 berdasarkan masa atau orde di Indonesia, yaitu:</p><ul>
<li style=”text-align: justify;”><span style=”text-decoration: underline;”>Orde lama</span>, yaitu pemilu yang dilaksanakan pada tahun 1955. Untuk dua keperluan, yaitu memilih anggota DPR(260 kursi/29 September 1955) dan memilih anggota Dewan Konstituante(520 kursi/15 Desember 1955) dan merupakan pemilu pertama serta pemilu yang menjadi catatan emas sejarah Indonesia.</li>
<li><span style=”text-decoration: underline;”>Orde baru</span>:
<ol>
<li>Pemilu 1971, pada tahun ini asas jujur dan kebersamaan mulai ditiadakan dan
diganti dengan LUBER</li>
<li>Pemilu 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997; di tahun-tahun ini, pemilu hanya diikuti oleh 3 partai politik yang merupakan gabungan
dari beberapa partai berdasarkan UU No. 3 Tahun 1975 tentang Partai Politik dan Golkar. Dua partai yang lain adalah PPP dan PDI.</li>
</ol>
</li>
<li><span style=”text-decoration: underline;”>Reformasi</span>:
<ol>
<li>Pemilu 1999, peserta Pemilu kali ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, pemilu kali ini diikuti oleh 48 partai. Ini sudah jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah partai yang ada dan terdaftar di Departemen Kehakiman dan HAM, yakni 141 partai.</li>
<li>Pemilu 2004, berlangsung tiga tahap(legislatif/DPR, Presiden/wapres, Presiden/wapres II). Pada pemilu ini, rakyat dapat memilih presiden dan wakil presiden secara langsung.</li>
<li>Pemilu 2009, undang-undang memberlakukan cara mencentang dengan bolpen setelah sebelumnya beristilah nyoblos</li>
</ol>
</li>
</ul>
<p style=”text-align: center;”><img src=”http://dreamindonesia.files.wordpress.com/2009/05/presiden_indonesia.jpg” alt=”" />





aku emang sk sm ——
30 Oktober 2011 pukul 6:49 pm
thanks y tugas pkn q bsA selesai …
19 Oktober 2011 pukul 9:50 pm
thanks ilmunya, berguna nih, jadi selesai deh tugas
18 September 2011 pukul 8:28 pm
sama”
3 Oktober 2011 pukul 1:06 pm
wah..
makasi ya tugas sejarah saya jadi selesai…
11 September 2011 pukul 2:57 pm
iya sam-sama
18 September 2011 pukul 5:26 am
THANKS SO MUCH… ALHAMDULILLAH SANGAT MEMBANTU SAYA
31 Mei 2011 pukul 11:11 am
sama-sama, berbagi ilmu……………..
5 Juni 2011 pukul 7:09 am
Pingback: 2010 in review « .:"no.1":.
i like it
7 Januari 2011 pukul 11:01 am
maksih
7 November 2010 pukul 5:40 pm
thanks ya
31 Oktober 2010 pukul 6:57 pm
makasih ya tugas PKN saya jadi selesai ni hehe
25 Oktober 2010 pukul 7:22 pm