mencoba untuk merasakan apa yang sedang, telah dan akan terjadi untuk kemudian menuliskannya dalam sebuah blog pribadi ini. Selamat membaca

lingkungan

Selamatkan Mereka!!!

Postingan dari widget

Dekatkan mouse dan akan terlihat sedikit text tentang mereka

  • harimau sumatra
  • orang utan
  • gajah sumatra
  • pesut mahakam
  • elang jawa
  • badak jawa
  • bekantan
  • tarsius sulawesi
  • maleo
  • penyu belimbing
  • anoa dataran rendah

Review LRB

LRB yang dibuat di sekitar lahan yang sering digenangi oleh air hujan terbukti mampu mempercepat proses peresapan air, baik secara vertikal maupun horisontal. Hal ini ditandai dengan berkurangnya jumlah genangan air hujan di lahan tersebut dengan curah hujan yang kurang lebih sama. Jika genangan air berkurang, itu berarti sanitasi lingkungan sekitar pun juga lebih baik. Di sisi lain, air dari genangan tersebut yang mungkin akan segera mengalami evaporasi, karena adanya LRB, air tersebut akan segera masuk ke dalam tanah dan tersimpan sebagai cadangan air tanah. Dan jika LRB itu dibuat di sekitar daerah yang memiliki kemiringan, maka air yang seharusnya mengalir ke hilir pun akan masuk ke dalam tanah dan tersimpan sebagai cadangan air tanah. Dengan demikian, muka air sumur pun tidak semakin dalam dan ketersediaan cadangan air tanah pun terjamin.

Tidak hanya menjamin ketersediaan air tanah, lubang resapan biopori juga mampu mencegah terjadinya degradasi lahan atau penurunan kualitas maupun perusakan lahan (tanah). Bukan hanya sekedar lubang yang kosong, namun di dalamnya diisi dengan sampah organik. Dalam prosesnya, sampah tersebut akan diuraikan oleh aktivitas mikroorganisme dalam tanah yang akhirnya menghasilkan suatu kondisi tanah yang lebih baik (subur). Sehingga terbukti bahwa lubang resapan biopori mampu mencegah degradasi lahan.

Dapat disimpulkan bahwa lubang resapan biopori memiliki multiguna. Termasuk usaha konservasi air, pencegahan degradasi lahan (rusaknya kualitas tanah) dan ternyata mampu meningkatkan perekonomian masyarakat. Dalam hal ini, yang dimaksud adalah bahwa dengan membuat lubang resapan biopori, setiap 6 bulan sekali masyarakat akan mendapatkan pupuk kompos yang kemudian dapat dijual (agribisnis perkotaan). Yang pada akhirnya juga, pupuk tersebut dapat digunakan dalam usaha konservasi air, lahan, dan penghijauan.

  • Pertama kali diperkenalkan oleh Kamir R. Brata, staf Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan, Institut Pertanian Bogor.

  • Perubahan Iklim dan Konservasi Alam

    Pencemaran udara pada umumnya terjadi secara alam, seperti letusan gunung berapi, badai debu, kebakaran hutan dan lain-lain. Namun yang terjadi saat ini, beban pemcemaran udara di atmosfer kian bertambah dengan semakin meningkatnya aktivitas industri, pertanian, dan aktivitas di daerah perkotaan. Cerobong asap dan mesin, limbahnya telah memenuhi langit. Senyawa kimia seperti klorofluorokarbon (CFC) yang biasa digunakan pada lemari es dan gas hasil pembakaran fosil, tidak hanya mencemari udara, tetapi benar-benar menghancurkan lapisan ozon (O3).

    Cerobong asap
    Aktivitas penebangan hutan, terutama di daerah tropis juga turut memberikan sumbangan besar bagi pencemaran udara. Upaya untuk mendapatkan keuntungan secara ekonomi, namun malah membuat kerusakan pada lingkungan sekitar. Pohon-pohon ditebang tanpa ada usaha konservasi alam atau penanaman kembali. Itu berarti penyerapan gas karbondioksida dari lingkungan oleh tumbuhan pun berkurang. Dari situlah, malapetaka perubahan iklim datang dan terus saja menjadi perhatian dunia akhir-akhir ini.

    Peningkatan suhu rata-rata bumi oleh gas karbondioksida (CO2) saat ini berdampak pada berubahnya keadaan iklim global.Tidak hanya dalam cakupan ekosistem, tetapi lebih luas lagi yaitu dalam cakupan biosfer. Keadaan yang demikian ini, merupakan sebuah ancaman dan malapetaka bagi seluruh makhluk hidup termasuk manusia. Dua kutub bumi yang keduanya diselimuti oleh daratan es, sewaktu-waktu dapat mencair dan menenggelamkan pulau-pulau. Selain itu, punahnya beberapa spesies juga menyebabkan terputusnya rantai yang pada akhirnya mengganggu kesetimbangan ekosistem.

    Dalam menghadapi akibat dari perubahan iklim global ini, salah satu usaha yang perlu dilakukan adalah penghijauan di daerah-daerah hutan tropis terutama, karena dari sinilah ozon (O3) banyak dihasilkan. Indonesia, Brasil, dan Kongo, adalah negara yang memiliki hutan tropis terbesar di dunia. Tiga negara tersebut akan mendapatkan bantuan dari program PBB guna mengurangi emisi di negara berkembang. Program ini bertajuk REDD atau Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation in Developing Countries. Hal ini didasarkan pada hasil kesepakatan konferensi perubahan iklim internasional yang diadakan di Cancun, Meksiko akhir tahun 2010 kemarin.

    Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat penebangan dan kerusakan hutan tertinggi di dunia. Kerusakan hutan terjadi di mana-mana, tanpa memperhatikan kelangsungan ekosistem dan satwa yang ada di dalamnya. Laju kerusakan hutan pada tahun 1985-1997 tercatat 1,6 juta hektar per tahun, sedangkan pada tahun 1997-2000 menjadi 3,8 juta hektar per tahun. Lalu, bagaimana dengan saat ini? Tahun 2007 tercatat,ada 574 kasus kejahatan terhadap hutan. Di tahun berikutnya, jumlah kasus turun menjadi 404 kasus. Dari kasus-kasus yang tercatat ini, ternyata hanyalah pelaku kecil saja yang banyak diperiksa.Yang memprihatinkan lagi, adalah sebanyak 64-83 persen kayu hasil tebangan adalah berstatus illegal logging. Kemudian, apakah usaha pencanangan beberbagai program penghijauan ini cukup efektif? Memang, salah satu usaha yang paling tepat saat ini adalah dengan penghijauan yang berkelanjutan, namun, seharusnya ditunjang dengan penegakan hukum yang tegas terhadap para perusak hutan. Agar program-program yang telah dicanangkan dapat berjalan lancar sebagaimana mestinya. Jika hal tersebut tidak dilakukan, maka sangat mungkin suatu saat kita akan kehilangan beberapa satwa endemik yang kita miliki.

    Kelangsungan hidup beberapa satwa endemik atau asli Indonesia saat ini sedang terancam. Dari beberapa sumber menyebutkan bahwa satwa-satwa tersebut tergolong “endangered” bahkan di antaranya tergolong “critically endangered” atau hampir punah. Berikut ini daftar beberapa spesies tersebut.

  • Dermochelys coriacea (penyu belimbing)
  • Orcaella brevirostris (pesut mahakam)
  • Spizaetus bartelsi (elang jawa)
  • Macrocephalon maleo (maleo)
  • Panthera tigris sumatrae (harimau Sumatra)
  • Elephas maximus (gajah Sumatra)
  • Bubalus depressicornis (anoa)
  • Nasalis larvatus (bekantan)
  • Rhinoceros sondaicus (badak jawa)
  • Tarsius tarsier (kuskus)
  • SELAMATKAN MEREKA!!!!

    Artikel Terkait

  • PENTINGNYA KESADARAN DAN KEPEDULIAN TERHADAP LINGKUNGAN DI ERA GLOBALISASI
  • APA YANG DIHASILKAN DI KOPENHAGEN?
  • TEKNOLOGI SEDERHANA: LUBANG RESAPAN BIOPORI DAN UPAYA PENANGGULANGAN KRISIS CADANGAN AIR
  • kode html di belakang artikel ini (html code behind this article):

    <a href=”http://nurhidayanto09.files.wordpress.com/2011/01/pencemaran.png”><img title=”Pencemaran” src=”http://nurhidayanto09.files.wordpress.com/2011/01/pencemaran.png?w=300″ alt=”" width=”300″ height=”229″ /></a> Pencemaran udara pada umumnya terjadi secara alam, seperti letusan gunung berapi, badai debu, kebakaran hutan dan lain-lain. Namun yang terjadi saat ini, beban pemcemaran udara di atmosfer kian bertambah dengan semakin meningkatnya aktivitas industri, pertanian, dan aktivitas di daerah perkotaan. Cerobong asap dan mesin, limbahnya telah memenuhi langit. Senyawa kimia seperti klorofluorokarbon (CFC) yang biasa digunakan pada lemari es dan gas hasil pembakaran fosil, tidak hanya mencemari udara, tetapi benar-benar menghancurkan lapisan ozon (O<sub>3</sub>).
    <div style=”overflow: yes; width: 50%; border: 10px ridge lime; padding: 20px;”><img src=”http://www.gambargratis.com/wp-content/uploads/2010/03/Polusi-Udara.jpg” alt=”Cerobong asap” align=”left” />
    <strong>Cerobong</strong> yang dahulu dianggap sebagai lambang kemakmuran. Kini, orang melihatnya sebagi peringatan tentang kerusakan yang ditimbulkannya pada atmosfer bumi.</div>
    Aktivitas penebangan hutan, terutama di daerah tropis juga turut memberikan sumbangan besar bagi pencemaran udara. Upaya untuk mendapatkan keuntungan secara ekonomi, namun malah membuat kerusakan pada lingkungan sekitar. Pohon-pohon ditebang tanpa ada usaha konservasi alam atau penanaman kembali. Itu berarti penyerapan gas karbondioksida dari lingkungan oleh tumbuhan pun berkurang. Dari situlah, malapetaka <a href=”http://blogor.org”>perubahan iklim</a> datang dan terus saja menjadi perhatian dunia akhir-akhir ini. 

    Peningkatan suhu rata-rata bumi oleh gas karbondioksida (CO<sub>2</sub>) saat ini berdampak pada berubahnya keadaan iklim global.Tidak hanya dalam cakupan ekosistem, tetapi lebih luas lagi yaitu dalam cakupan biosfer. Keadaan yang demikian ini, merupakan sebuah ancaman dan malapetaka bagi seluruh makhluk hidup termasuk manusia. Dua kutub bumi yang keduanya diselimuti oleh daratan es, sewaktu-waktu dapat mencair dan menenggelamkan pulau-pulau. Selain itu, punahnya beberapa spesies juga menyebabkan terputusnya rantai yang pada akhirnya mengganggu kesetimbangan ekosistem.

    Dalam menghadapi akibat dari <a href=”http://blogor.org”>perubahan iklim</a> global ini, salah satu usaha yang perlu dilakukan adalah penghijauan di daerah-daerah hutan tropis terutama, karena dari sinilah ozon (O<sub>3</sub>) banyak dihasilkan. Indonesia, Brasil, dan Kongo, adalah negara yang memiliki hutan tropis terbesar di dunia. Tiga negara tersebut akan mendapatkan bantuan dari program PBB guna mengurangi emisi di negara berkembang. Program ini bertajuk REDD atau <em>Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation in Developing Countries</em>. Hal ini didasarkan pada hasil kesepakatan konferensi <a href=”http://blogor.org”>perubahan iklim</a> internasional yang diadakan di Cancun, Meksiko akhir tahun 2010 kemarin.

    Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat penebangan dan kerusakan hutan tertinggi di dunia. Kerusakan hutan terjadi di mana-mana, tanpa memperhatikan kelangsungan ekosistem dan satwa yang ada di dalamnya. Laju kerusakan hutan pada tahun 1985-1997 tercatat 1,6 juta hektar per tahun, sedangkan pada tahun 1997-2000 menjadi 3,8 juta hektar per tahun. Lalu, bagaimana dengan saat ini? Tahun 2007 tercatat,ada 574 kasus kejahatan terhadap hutan. Di tahun berikutnya, jumlah kasus turun menjadi 404 kasus. Dari kasus-kasus yang tercatat ini, ternyata hanyalah pelaku kecil saja yang banyak diperiksa.Yang memprihatinkan lagi, adalah sebanyak 64-83 persen kayu hasil tebangan adalah berstatus illegal logging. Kemudian, apakah usaha pencanangan beberbagai program penghijauan ini cukup efektif? Memang,  salah satu usaha yang paling tepat saat ini adalah dengan penghijauan yang berkelanjutan, namun, seharusnya  ditunjang dengan penegakan hukum yang tegas terhadap para perusak hutan. Agar program-program yang telah dicanangkan dapat berjalan lancar sebagaimana mestinya. Jika hal tersebut tidak dilakukan, maka sangat mungkin suatu saat kita akan kehilangan beberapa satwa endemik yang kita miliki.

    Kelangsungan hidup beberapa satwa endemik atau asli Indonesia saat ini sedang terancam. Dari beberapa sumber menyebutkan bahwa satwa-satwa tersebut tergolong “<em>endangered</em>” bahkan di antaranya tergolong “<em>critically endangered</em>” atau hampir punah. Berikut ini daftar beberapa spesies tersebut.
    <table cellspacing=”12″ cellpadding=”5″ align=”center”>
    <tbody>
    <tr>
    <td>
    <li><em>Dermochelys coriacea</em> <a href=”http://4.bp.blogspot.com/_U2ErskTp618/S12y-oyKG-I/AAAAAAAAAAc/qlQ_-MRKhCI/s320/penyu+belimbing.jpg”>(penyu belimbing)</a></li>
    </td>
    <td>
    <li><em>Orcaella brevirostris</em> <a href=”http://nurhidayanto09.files.wordpress.com/2009/07/pesut2.jpg?w=150&amp;h=104″>(pesut mahakam)</a></li>
    </td>
    </tr>
    <tr>
    <td>
    <li><em>Spizaetus bartelsi</em> <a href=”http://nurhidayanto09.files.wordpress.com/2009/07/elang-jawa-indrakila.jpg?w=129&amp;h=150″>(elang jawa)</a></li>
    </td>
    <td>
    <li><em>Macrocephalon maleo</em> <a href=”http://www.kidnesia.com/var/gramedia/storage/images/media/images/maleo/482496-1-ind-ID/maleo_medium.jpg”>(maleo)</a></li>
    </td>
    </tr>
    <tr>
    <td>
    <li><em>Panthera tigris sumatrae</em> <a href=”http://almujaddid.files.wordpress.com/2007/12/tiger-rest.jpg”>(harimau Sumatra)</a></li>
    </td>
    <td>
    <li><em>Elephas maximus</em> <a href=”http://3.bp.blogspot.com/_0C3gi-Ych0M/SPivpqWKQWI/AAAAAAAABAE/GCRk8XcQPIM/s400/sumatra+elephant.jpg”>(gajah Sumatra)</a></li>
    </td>
    </tr>
    <tr>
    <td>
    <li><em>Bubalus depressicornis</em> <a href=”http://animal.discovery.com/guides/endangered/mammals/gallery/anoa.jpg”>(anoa)</a></li>
    </td>
    <td>
    <li><em>Nasalis larvatus</em> <a href=”http://www.tribunkaltim.co.id/photo/2008/08/42e1a6cc2cba4d52b4965e393742e904.jpg”>(bekantan)</a></li>
    </td>
    </tr>
    <tr>
    <td>
    <li><em>Rhinoceros sondaicus</em> <a href=”http://rol.republika.co.id/images/news/2008/11/20081120124635.jpg”>(badak jawa)</a></li>
    </td>
    <td>
    <li><em>Tarsius tarsier</em> <a href=”http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:JZlZyFMtb0BBLM:http://tolweb.org/tree/ToLimages/616685330_ac1b7f036c_o.jpg”>(kuskus)</a></li>
    </td>
    </tr>
    </tbody>
    </table>
    <big><strong>SELAMATKAN MEREKA!!!!</strong></big>
    <h3>Artikel Terkait</h3>
    <li><a href=”http://nurhidayanto09.wordpress.com/2009/07/03/pentingnya-kesadaran-dan-kepedulian-terhadap-lingkungan-di-era-globalisasi/”>PENTINGNYA KESADARAN DAN KEPEDULIAN TERHADAP LINGKUNGAN DI ERA GLOBALISASI</a></li>
    <li><a href=”https://nurhidayanto09.wordpress.com/2010/02/21/apa-yang-dihasilkan-di-kopenhagen/”>APA YANG DIHASILKAN DI KOPENHAGEN?</a></li>
    <li><a href=”https://nurhidayanto09.wordpress.com/2010/03/15/teknologi-sederhana-lubang-resapan-biopori-dan-upaya-penanggulangan-krisis-cadangan-air/”>TEKNOLOGI SEDERHANA: LUBANG RESAPAN BIOPORI DAN UPAYA PENANGGULANGAN KRISIS CADANGAN AIR</a></li>


    TEKNOLOGI SEDERHANA: LUBANG RESAPAN BIOPORI DAN UPAYA PENANGGULANGAN KRISIS CADANGAN AIR

    Musim kemarau biasanya mengakibatkan kedalaman muka air sumur menjadi lebih dalam,sedangkan di musim penghujan berkibat pada terganggunya arus lalu lintas oleh air yang tergenang bahkansering juga menyebabkan banjir. Apakah semua keadaan ini akan menjadi kebiasaan tiap tahun saja? Tentukita semua tidak ingin setiap sekali dalam setahun harus mengalami hal demikian, bukan? Salah satufaktor dari ini semua adalah kurangnya daerah resapan air di sekitar yang kaitannya dengan konservasiair. Air yang seharusnya masuk ke dalam tanah justru mengalir ke selokan lalu mengalir ke sungaisehingga tidak terserap ke dalam tanah untuk menjadi cadangan air tanah.

    Sebenarnya terdapat berbagai cara untuk mengatasi krisis cadangan air ini, salah satunya adalah lubang resapan biopori. Lubang kecil yang dibuat dengan kedalaman kurang lebih 1 meter (100 cm), mempunyai fungsi ganda. Pertama sebagai lubang resapan air dan yang kedua adalah sebagai tempat untuk mengubah sampah menjadi kompos. Jika dibandingkan dengan teknologi yang lain, lubang resapan biopori ini tidak memerlukan biaya yang cukup besar dan sangat cocok bagi daerah perkotaan yang memang tidak memiliki lahan karena padat oleh bangunan-bangunan.

    bor bioporiAlat yang digunakan untuk membuat lubang resapan biopori bermacam-macam, bisa menggunakan linggis atau alat tradisional lainnya. Namun, untuk saat ini alat yang paling efektif adalah dengan boor biopori yang memang khusus digunakan untuk membuat lubang resapan biopori. Dengan panjang tangkai 125 cm dan memiliki mata boor yang terbuat dari baja agar tajam.

    Berikut ini adalah cara pembuatan lubang resapan biopori:

    1. Gunakan lokasi yang memang tepat untuk dijadikan lubang resapan biopori, yaitu di tempat yangbiasanya air mengalir ke lokasi itu.
    2. Siramlah dengan air tempat di mana lubang resapan biopori akan dibuat agar mudah untukmelubanginya.
    3. Letakkan mata boor tegak lurus dengan permukaan tanah untuk mengawali pengeboran.
    4. Lubangi tanah dengan boor dengan memutarnya sehingga mata boor masuk ke dalam tanah.
    5. Selama proses pengeboran siramlah dengan air untuk memudahkan proses pengeboran.
    6. Keluarkan tanah yang telah berhasil dibor dan lakukan pengeboran secara berulang-ulang sehinggamencapai kedalaman sekitar 1 meter.
    7. Ke dalam lubang resapan, masukkanlah sampah organik.
    8. Lakukan pengisian ulang sampah organik, jika sampah organik sebelumnya telah menyusut akibat prosespelapukan.
    9. Ketika musim kemarau tiba, kompos yang telah terbentuk dapat diambil bersamaan dengan pemeliharaanterhadap lubang resapan biopori.
    10. Untuk mencegah terjadinya longsoran atau bahaya terperosok ke dalam lubang, maka perkuatlah tutuplubang menggunakan semen di sekeliling lubang.

    Mengingat curah hujan di wilayah Indonesia yang cukup tinggi, sebenarnya kita tidak perlu khawatir terhadap krisis cadangan air tanah. Akan tetapi, penyempitan lahan yang dilakukan secara terus-menerus inilah yang perlu dikhawatirkan, karena kaitannya dengan semakin berkurangnya luasan resapan air. Dengan membuat lubang resapan biopori ini diharapakan krisis cadangan air tanah tidak terjadi dan dapat mencegah terjadinya banjir atau air yang tergenang khususnya di daerah perkotaan. Sementara satu masalah itu terselesaikan, kita juga bisa mengambil manfaat dari lubang resapan biopori ini. Ketika musim kemarau tiba, sampah organik yang telah mengalami proses pelapukan dapat kita ambil,dalam bentuk pupuk kompos. Yang kaitannya dengan penanaman pohon atau tanaman dan merupakan salah satu,upaya penanggulangan krisis cadangan air tanah serta manfaat lainnya.

      Sesungguhnya air hujan yang turun dari langit adalah karunia dari Yang Maha Kuasa, sudah seharusnya kita mensyukuri segala apa yang telah diberikan. Salah satu bentuk rasa syukur itu dapat diwujudkan dengan memanen air, yang salah satu caranya adalah dengan membuat lubang resapan biopori. Sungguh tak terbayang bagaimana jadinya jika di dunia ini tak ada hujan yang airnya mampu mengisi sungai-sungai serta sebagian lagi meresap ke dalam tanah dan sehingga makhluk hidup dapatmelangsungkan kehidupannya. Subhanallah………."

    kode html di belakang artikel ini (html code behind this article):

    <div style=”background: url(http://wallpapers.free-review.net/wallpapers/12/Mango_Background.jpg);”>
    <p style=”text-align: justify;”>Musim kemarau biasanya mengakibatkan kedalaman muka air sumur menjadi lebih dalam,sedangkan di musim penghujan berkibat pada terganggunya arus lalu lintas oleh air yang tergenang bahkansering juga menyebabkan banjir. Apakah semua keadaan ini akan menjadi kebiasaan tiap tahun saja? Tentukita semua tidak ingin setiap sekali dalam setahun harus mengalami hal demikian, bukan? Salah satufaktor dari ini semua adalah kurangnya daerah resapan air di sekitar yang kaitannya dengan konservasiair. Air yang seharusnya masuk ke dalam tanah justru mengalir ke selokan lalu mengalir ke sungaisehingga tidak terserap ke dalam tanah untuk menjadi cadangan air tanah.</p>
    <p style=”background: silver none repeat scroll 0 0; text-align: justify;”>Sebenarnya terdapat berbagai cara untuk mengatasi krisis cadangan air ini, salah satunya adalah lubang resapan biopori.  Lubang kecil yang dibuat dengan kedalaman kurang lebih 1 meter (100 cm), mempunyai fungsi ganda. Pertama sebagai lubang resapan air dan yang kedua adalah sebagai tempat untuk mengubah sampah menjadi kompos. Jika dibandingkan dengan teknologi yang lain, lubang resapan biopori ini tidak memerlukan biaya yang cukup besar dan sangat cocok bagi daerah perkotaan yang memang tidak memiliki lahan karena padat oleh bangunan-bangunan.</p>
    <p style=”text-align: justify;”><img title=”bor biopori” src=”http://3.bp.blogspot.com/_I5mfBTqyFWI/SSqE7nA8qHI/AAAAAAAAACU/pz3NHeik4YQ/s400/bor+biopori.JPG” alt=”bor biopori” width=”94″ height=”171″ />Alat yang digunakan untuk membuat lubang resapan biopori bermacam-macam, bisa menggunakan linggis atau alat tradisional lainnya. Namun, untuk saat ini alat yang paling efektif adalah dengan boor biopori yang memang khusus digunakan untuk membuat lubang resapan biopori. Dengan panjang tangkai 125 cm dan memiliki mata boor yang terbuat dari baja agar tajam.</p>
    <p style=”text-align: justify;”>Berikut ini adalah cara pembuatan lubang resapan biopori:</p>

    <ol style=”background: silver;” type=”1″>
    <li>Gunakan lokasi yang memang tepat untuk dijadikan lubang resapan biopori, yaitu di tempat yangbiasanya air mengalir ke lokasi itu.</li>
    <li>Siramlah dengan air tempat di mana lubang resapan biopori akan dibuat agar mudah untukmelubanginya.</li>
    <li>Letakkan mata boor tegak lurus dengan permukaan tanah untuk mengawali pengeboran.</li>
    <li>Lubangi tanah dengan boor dengan memutarnya sehingga mata boor masuk ke dalam tanah.</li>
    <li>Selama proses pengeboran siramlah dengan air untuk memudahkan proses pengeboran.</li>
    <li>Keluarkan tanah yang telah berhasil dibor dan lakukan pengeboran secara berulang-ulang sehinggamencapai kedalaman sekitar 1 meter.</li>
    <li>Ke dalam lubang resapan, masukkanlah sampah organik.</li>
    <li>Lakukan pengisian ulang sampah organik, jika sampah organik sebelumnya telah menyusut akibat prosespelapukan.</li>
    <li>Ketika musim kemarau tiba, kompos yang telah terbentuk dapat diambil bersamaan dengan pemeliharaanterhadap lubang resapan biopori.</li>
    <li>Untuk mencegah terjadinya longsoran atau bahaya terperosok ke dalam lubang, maka perkuatlah tutuplubang menggunakan semen di sekeliling lubang.</li>
    </ol>
    <p style=”text-align: justify;”>Mengingat curah hujan di wilayah Indonesia yang cukup tinggi, sebenarnya kita tidak perlu khawatir terhadap krisis cadangan air tanah. Akan tetapi, penyempitan lahan yang dilakukan secara terus-menerus inilah yang perlu dikhawatirkan, karena kaitannya dengan semakin berkurangnya luasan resapan air. Dengan membuat lubang resapan biopori ini diharapakan krisis cadangan air tanah tidak terjadi dan dapat mencegah terjadinya banjir atau air yang tergenang khususnya di daerah perkotaan. Sementara satu masalah itu terselesaikan, kita juga bisa mengambil manfaat dari lubang resapan biopori ini. Ketika musim kemarau tiba, sampah organik yang telah mengalami proses pelapukan dapat kita ambil,dalam bentuk pupuk kompos. Yang kaitannya dengan penanaman pohon atau tanaman dan merupakan salah satu,upaya penanggulangan krisis cadangan air tanah serta manfaat lainnya.</p>

    <ol>
    <div style=”border: 5px ridge violet; background: silver none repeat scroll 0pt 0pt; width: 95%; text-align: justify;”>

    <span style=”font-family: &amp;amp;amp;”><strong>”</strong></span><tt>Sesungguhnya air hujan yang turun dari langit adalah karunia dari Yang Maha Kuasa, sudah seharusnya kita mensyukuri segala apa yang telah diberikan. Salah satu bentuk rasa syukur itu dapat diwujudkan dengan memanen air, yang salah satu caranya adalah dengan membuat lubang resapan biopori. Sungguh tak terbayang bagaimana jadinya jika di dunia ini tak ada hujan yang airnya mampu mengisi sungai-sungai serta sebagian lagi meresap ke dalam tanah dan sehingga makhluk hidup dapatmelangsungkan kehidupannya. Subhanallah……….<span style=”font-family: &amp;amp;amp;”><strong>”</strong></span></tt>

    </div></ol>
    </div>


    APA YANG DIHASILKAN DI KOPENHAGEN?

    cop15


    Kerusakan lingkungan semakin menjadi, hal itu berdampak besar terhadap perubahan iklim yang terjadi di berbagai belahan bumi saat ini. Istilah yang sering digunakan akibat dari kerusakan itu adalah “pemanasan global” atau “global warming” dalam bahasa asing. Timbul sebagai dampak dari pembuangan emisi karbondioksida besar-besaran oleh aktivitas industri, transportasi, dan lainnya. Termasuk penggusuran lahan bagi tumbuh-tumbuhan terutama di daerah tropis yang menjadi penghasil ozon terbesar di bumi. Lahan–lahan tersebut diganti oleh pohon-pohon beton yang menjulang tinggi dan menandai bagaimana kemajuan suatu bangsa itu sendiri.

    Sebenarnya, bagaimana pemanasan global itu? Pemanasan global adalah naiknya suhu rata-rata permukaan bumi akibat panas matahari yang terperangkap oleh karbondioksida yang melebihi kadar batas normal. Panas matahari yang seharusnya dapat dipantulkan lagi ke luar angkasa oleh atmosfer itu, kini terperangkap di lapisan atmosfer bumi. Dengan demikian suhu rata-rata bumi pun naik hingga satu derajat celcius per tahun dan juga menyebabkan naiknya permukaan air laut kira-kira 15 cm. Naiknya suhu rata-rata ini menyerupai efek yang biasa dirasakan ketika sedang berada di dalam rumah kaca, oleh sebab itu juga ada istilah “efek rumah kaca” atau “greenhouse effect”. Banyak kehidupan yang ada saat ini sangat terganggu dengan semakin tingginya suhu rata-rata di bumi ini. Jika pencemaran, perburuan, atau yang lainnya mungkin hanya akan mengganggu satu atau beberapa ekologi saja, maka pemanasan global dapat mengganggu ekosistem atau ekologi secara keseluruhan. Dan itu berarti permasalahan ini bukanlah persoalan yang bisa disepelekan begitu saja, karena hal ini menyangkut perubahan iklim yang tentu dampaknya amat serius bagi kehidupan.

    Dalam permasalahan yang serius ini, memang sudah dilakukan upaya-upaya sejak masalah ini belum terlalu serius diurusi seperti sekarang. Protokol-protokol, undang-undang, serta peraturan lainnya telah dibuat untuk mengatur segala kemungkinan yang mungkin ditimbulkan akibat dari kegiatan yang dapat menimbulkan bahaya terhadap lingkungan. Khususnya negara-negara maju yang merupakan penghasil emisi gas karbondioksida terbesar ini seharusnya lebih serius dibanding negara berkembang dan berupaya memunculkan ide-ide yang dapat mengatasi permasalahan yang sedang terjadi ini. Dan kembali lagi, permasalahan tentang perubahan iklim.

    Dilatar belakangi oleh peristiwa-peristiwa itu juga karena hampir habisnya masa berlaku protokol Kyoto tahun 2012 serta melanjuti pertemuan dua tahun lalu di Bali. Beberapa realisasi telah dilakukan dari pertemuan-pertemuan internasional yang telah dilakukan. Dan untuk menanggapinya juga maka di penghujung tahun 2009 ini juga diadakan pertemuan yang bertempat di Copenhagen, Denmark (Cop15). Berupaya mendapatkan sebuah kesepakatan yang bisa mengatasi masalah yang ada saat ini.

    Topik tentang perubahan iklim menjadi masalah yang hangat di Kopenhagen, Denmark beberapa waktu yang lalu. Delegasi-delegasi dari berbagai negara berkumpul untuk membahas masalah yang menyangkut masa depan bumi tempat mereka dan semua orang sekarang tinggal. Pertemuan ini berlangsung selama dua minggu, dan diikuti oleh 192 negara. Pasukan-pasukan telah disiapkan untuk menghadapi segala ancaman atau gangguan dari luar.Pertemuan ini hingga hari ke-7 belum juga mencapai kesepakatan, padahal mereka telah mencapai separuh waktu. Pertemuan ini juga diwarnai dengan walkout para peserta dan juga beberapa insiden yang tidak menyenangkan lainnya.

    Sementara itu, delegasi Indonesia diwakili oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. SBY datang dengan ambisi memainkan peran besar sebagai mediator antara negara-negara kaya dan negara-negara miskin. Akan tetapi rencana yang dibuat itu tidak berjalan seperti yang diinginkan. Nyatanya Indonesia tidak terlalu memainkan peran besar sebagai jembatan antar negara maju dan berkembang. Bahkan dalam liputan media internasional pun peran Indonesia jarang disebut. Padahal orang-orang menaruh harapan besar pada presiden untuk bisa menunjukkan diplomasi kuat selama konferensi berlangsung. Apalagi, sebenarnya Indonesia memiliki daya tawar yang kuat dibanding negara lain karena Indonesia adalah negara kepulauan dan memiliki wilayah hutan yang luas. Seharusnya Indonesia mau mengambil sikap yang tegas dan sikap yang jelas sejak awal konferensi serta mampu menjadi pemimpin bagi negara-negara berkembang untuk saling tawar-menawar dengan negara-negara maju.

    Dan akhirnya di hari terakhir pertemuan tingkat tinggi ini berhasil membuat beberapa keputusan berupa poin-poin, akan tetapi hasil kesepakatan itu nyatanya tidak mengikat bagi para penghasil emisi dan sebagainya secara hukum serta tidak adanya target yang menyatakan berapa persen pengurangan emisi gas rumah kaca untuk selanjutnya. Ada yang menilai bahwa pertemuan kali ini mendekati gagal atau di pinggir jurang kegagalan.

    kode html di belakang artikel ini (html code behind this article):

    <div style=”border: 10px ridge lime; padding: 20px;”>
    <p style=”text-align: center;”><img title=”cop15″ src=”http://www.denmark.net/files/images/cop15.png” alt=”cop15″ width=”70%” height=”70%” align=”center” /></p> 

    <div style=”text-align: justify;”><span style=”font-family: ”snap;”>
    </span><span style=”font-family: ”snap;”>Kerusakan lingkungan semakin menjadi, hal itu berdampak besar terhadap perubahan iklim yang terjadi di berbagai belahan bumi saat ini. Istilah yang sering digunakan akibat dari kerusakan itu adalah “pemanasan global” atau <em>“global warming”</em> dalam bahasa asing. Timbul sebagai dampak dari pembuangan emisi karbondioksida besar-besaran oleh aktivitas industri, transportasi, dan lainnya. Termasuk penggusuran lahan bagi tumbuh-tumbuhan terutama di daerah tropis yang menjadi penghasil ozon terbesar di bumi. Lahan–lahan tersebut diganti oleh pohon-pohon beton yang menjulang tinggi dan menandai bagaimana kemajuan suatu bangsa itu sendiri. </span>

    <span style=”font-family: ”snap;”>Sebenarnya, bagaimana pemanasan global itu? Pemanasan global adalah naiknya suhu rata-rata permukaan bumi akibat panas matahari yang terperangkap oleh karbondioksida yang melebihi kadar batas normal. Panas matahari yang seharusnya dapat dipantulkan lagi ke luar angkasa oleh atmosfer itu, kini terperangkap di lapisan atmosfer bumi. Dengan demikian suhu rata-rata bumi pun naik hingga satu derajat celcius per tahun dan juga menyebabkan naiknya permukaan air laut kira-kira 15 cm. Naiknya suhu rata-rata ini menyerupai efek yang biasa dirasakan ketika sedang berada di dalam rumah kaca, oleh sebab itu juga ada istilah “efek rumah kaca” atau <em>“greenhouse effect”</em>. Banyak kehidupan yang ada saat ini sangat terganggu dengan semakin tingginya suhu rata-rata di bumi ini. Jika pencemaran, perburuan, atau yang lainnya mungkin hanya akan mengganggu satu atau beberapa ekologi saja, maka pemanasan global dapat mengganggu ekosistem atau ekologi secara keseluruhan. Dan itu berarti permasalahan ini bukanlah persoalan yang bisa disepelekan begitu saja, karena hal ini menyangkut perubahan iklim yang tentu dampaknya amat serius bagi kehidupan. </span>

    <span style=”font-family: ”snap;”>Dalam permasalahan yang serius ini, memang sudah dilakukan upaya-upaya sejak masalah ini belum terlalu serius diurusi seperti sekarang. Protokol-protokol, undang-undang, serta peraturan lainnya telah dibuat untuk mengatur segala kemungkinan yang mungkin ditimbulkan akibat dari kegiatan yang dapat menimbulkan bahaya terhadap lingkungan. Khususnya negara-negara maju yang merupakan penghasil emisi gas karbondioksida terbesar ini seharusnya lebih serius dibanding negara berkembang dan berupaya memunculkan ide-ide yang dapat mengatasi permasalahan yang sedang terjadi ini. Dan kembali lagi, permasalahan tentang perubahan iklim. </span>

    <span style=”font-family: ”snap;”>Dilatar belakangi oleh peristiwa-peristiwa itu juga karena hampir habisnya masa berlaku protokol Kyoto tahun 2012 serta melanjuti pertemuan dua tahun lalu di Bali. Beberapa realisasi telah dilakukan dari pertemuan-pertemuan internasional yang telah dilakukan. Dan untuk menanggapinya juga maka di penghujung tahun 2009 ini juga diadakan pertemuan yang bertempat di Copenhagen, Denmark (Cop15). Berupaya mendapatkan sebuah kesepakatan yang bisa mengatasi masalah yang ada saat ini. </span>

    <span style=”font-family: ”snap;”>Topik tentang perubahan iklim menjadi masalah yang hangat di Kopenhagen, Denmark beberapa waktu yang lalu. Delegasi-delegasi dari berbagai negara berkumpul untuk membahas masalah yang menyangkut masa depan bumi tempat mereka dan semua orang sekarang tinggal. Pertemuan ini berlangsung selama dua minggu, dan diikuti oleh 192 negara. Pasukan-pasukan telah disiapkan untuk menghadapi segala ancaman atau gangguan dari luar.Pertemuan ini hingga hari ke-7 belum juga mencapai kesepakatan, padahal mereka telah mencapai separuh waktu. Pertemuan ini juga diwarnai dengan walkout para peserta dan juga beberapa insiden yang tidak menyenangkan lainnya.</span>

    <span style=”font-family: ”snap;”>Sementara itu, delegasi Indonesia diwakili oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. SBY datang dengan ambisi memainkan peran besar sebagai mediator antara negara-negara kaya dan negara-negara miskin. Akan tetapi rencana yang dibuat itu tidak berjalan seperti yang diinginkan. Nyatanya Indonesia tidak terlalu memainkan peran besar sebagai jembatan antar negara maju dan berkembang. Bahkan dalam liputan media internasional pun peran Indonesia jarang disebut. Padahal orang-orang menaruh harapan besar pada presiden untuk bisa menunjukkan diplomasi kuat selama konferensi berlangsung. Apalagi, sebenarnya Indonesia memiliki daya tawar yang kuat dibanding negara lain karena Indonesia adalah negara kepulauan dan memiliki wilayah hutan yang luas. Seharusnya Indonesia mau mengambil sikap yang tegas dan sikap yang jelas sejak awal konferensi serta mampu menjadi pemimpin bagi negara-negara berkembang untuk saling tawar-menawar dengan negara-negara maju. </span>
    <p style=”text-align: justify;”><span style=”font-family: ”snap;”>Dan akhirnya di hari terakhir pertemuan tingkat tinggi ini berhasil membuat beberapa keputusan berupa poin-poin, akan tetapi hasil kesepakatan itu nyatanya tidak mengikat bagi para penghasil emisi dan sebagainya secara hukum serta tidak adanya target yang menyatakan berapa persen pengurangan emisi gas rumah kaca untuk selanjutnya.  Ada yang menilai bahwa pertemuan kali ini mendekati gagal atau di pinggir jurang kegagalan. </span></p>
    <span style=”font-family: ”snap;”> </span>

    </div>
    </div>


    Mathematical Bird

    Ribuan burung starling yang sedang melakukan gerakan atraktif, menggunakan hitungan matematis dan vektor. Sehingga tidak ada saling tabrakkan di antara mereka. Bukankah ini luar biasa? Bergerak berputar, menikung, dan sebagainya untuk menghindari serangan dari predator. Menampilkan sebuah kerja sama yang tak diragukan kekuatanya.


    Ini dia si starling


    PENTINGNYA KESADARAN DAN KEPEDULIAN TERHADAP LINGKUNGAN DI ERA GLOBALISASI

    Semakin berkembangnya jaman dan teknologi, lingkungan adalah salah satu yang mengalami dampak buruk. Eksploitasi dilakukan secara besar-besaran, dengan tanpa memperhatikan efeknya terhadap lingkungan. Banyak hutan yang ditebangi, lalu diganti hutan-hutan beton yang menjulang tinggi. Setelah itu daerah sekitar hutan tidak mempunyai peresapan air yang cukup, dan akhirnya bencana tanah longsor dan banjir pun datang, ketika musim hujan tiba. Hal itulah yang sekiranya terjadi di era globalisai seperti saat ini. Di tengah sibuknya kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhanya, banyak hutan dan lingkungan lainnya yang menjadi korban dari tangan-tangan manusia.Hal yang dapat kita lakukan saat ini adalah ikut menjaga kelestarian lingkungan di sekitar kita, seperti ikut menjaga kebersihan lingkungan, ikut menyerukan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan, dan melestarikan keanekaragaman hayati yang semakin berkurang saja dari hari ke hari. Agar pada akhirnya alam tidak berbalik menyerang kita.

    Sebagai orang yang bijak, sudah sepantasnya kita bisa merasakan fenomena yang sedang terjadi ini. Untuk melestarikan lingkungan demi anak dan cucu kita di masa yang akan datang. Walaupun demikian, syukurlah saat ini sudah banyak pihak yang menyadari akan fenomena yang sedang terjadi ini. Seperti UU tentang pencemaran lingkungan yang telah diterbitkan yaitu, Undang-undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 1982: Polusi atau pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan, atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat  tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya. Selain itu juga ada penghargaan-penghargaan seperti adipura atau pun kalpataru, yang kaitanya dengan kebersihan dan pelestarian lingkungan. Dan masih banyak lagi, kesadaran dari banyak pihak untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan. Sehingga akan ada keseimbangan paling tidak antara pencemaran dan pencegahannya.

    Indonesia, merupakan salah satu Negara yang memiliki keanekaragaman hayati tertinggi dunia dan merupakan daerah penghasil ozon dunia, karena kebetulan berada di daerah ekuator. Tetapi di lain sisi, Indonesia merupakan salah satu Negara dengan tingkat penebangan dan kerusakan hutan tertinggi di dunia. Kerusakan hutan terjadi di mana-mana, tanpa memperhatikan kelangsungan ekosistem dan satwa yang ada di dalamnya. Laju kerusakan hutan pada tahun 1985-1997 tercatat 1,6 juta hektar per tahun, sedangkan pada tahun 1997-2000 menjadi 3,8 juta hektar per tahun. Lalu, bagaimana dengan saat ini? Tahun 2007 tercatat,ada 574 kasus kejahatan terhadap hutan. Di tahun berikutnya, jumlah kasus turun menjadi 404 kasus. Dari kasus-kasus yang tercatat ini ternyata, hanyalah pelaku kecil saja yang banyak diperiksa.Yang memprihatinkan lagi adalah sebanyak 64-83 persen kayu hasil tebangan adalah berstatus illegal logging.

    Dengan tingginya laju kerusakan hutan yang terjadi ini, turut menjadi salah satu penyebab turunnya keanekaragaman hayati yang kita miliki. Keanekaragaman hayati merupakan salah satu kekayaan yang tak ternilai harganya, oleh karena itu, begitu pentingnya masalah pelestarian saat ini. Ada beberapa satwa atau pun tumbuhan di Indonesia yang dilindungi oleh undang-undang dan saat ini kondisinya dalam keadaan hampir punah. Berikut ini, beberapa satwa yang saat ini dalam keadaan hampir punah:

    Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris)

    Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, merupakan sungai yang menjadi daerah kegiatan transportasi dan yang lainnya bagi warga sekitar untuk berbagai kepentingan. Semakin padatnya lalu-lintas di sungai Mahakam ternyata ikut mempengaruhi jumlah satwa yang hidup di dalamnya seperti pesut mahakam yang saat ini jumlahnya terus berkurang. Satwa yang dalam nama latinnya ini disebut Orcella brevirostris merupakan hewan asli Indonesia dan dilindungi oleh undang-undang. Semakin hari jumlahnya semakin berkurang, bahkan sekarang satwa ini hampir punah. Usaha-usaha untuk membudidayakannya telah dilakukan, namun tak juga berhasil untuk mengembang biakanya. Yang terpenting lagi ikan ini hanya terdapat pada tiga lokasi di dunia yakni Sungai Mahakam, Sungai Mekong, dan Sungai Irawady.
    Pendangkalan, erosi, pencemaran akibat limbah, dan pengelolaan hutan yang terjadi di sekitar sungai Mahakam adalah beberapa penyebab turunnya populasi satwa ini. Dengan kesadaran dan kepedulian kita, berharap agar tidak akan kehilangan lagi keanekaragaman hayati yang kita miliki.

    Elang Jawa (Spizaetus bartelsi)

    Satwa yang merupakan salah satu penghuni Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) Sukabumi ini, jumlahnya sekarang tinggal 19 ekor. Kerusakan hutan yang terjadi di taman nasional tersebut, mengakibatkan elang jawa tersebut sulit untuk berkembang biak. (kompas.com)
    Dan masih banyak satwa lainnya yang saat ini jumlahnya sangat memprihatinkan, dan merupakan tugas kita bersama untuk ikut melestarikannya. Sekarang juga perlu dilakukan konservasi terhadap satwa tersebut, sangatlah tepat dilakukan.

    Anggrek

    Sekitar 2.000 dari 5.000 jenis anggrek di Indonesia terancam punah akibat pembabatan hutan dan penyelundupan yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Beberapa jenis anggrek yang kini langka di antaranya, yaitu Phalaenopsis javanica dari Jawa Barat, Cymbidium hartinahianum dari Sumatera Utara, dan Paraphalaenopsis denevii dari Kalimantan. Selain itu, seluruh jenis anggrek Paphiliopedium masuk appendix CITES sebagai jenis anggrek yang tidak boleh diperdagangkan di dalam negeri maupun luar negeri. (kompas.com)
    Bambu Endemik

    Bambu yang beberapa tahun yang lalu sering kita jumpai dan sangat mudah kita jumpai. Saat ini sekitar 30-40 persen dari 88 jenis bambu endemik Indonesia keadaannya terancam. Beberapa faktor di antaranya adalah alih guna lahan, penyelundupan ke luar negeri, belum diketahui manfaatnya, dan penebangan yang berlebihan. Yang memprihatinkan adalah penyelundupan bambu ke luar negeri contohnya dari Yogya ke Amerika Serikat. Di Amerika Serikat, bambu dikembang biakan kemudian dijual dengan harga 1000 dollar AS per batang.

    Di Indonesia sendiri, juga belum tahunya masyarakat akan manfaat dari bambu. Sehingga banyak masyarakat yang sesuka hati menebangnya kemudian tidak menanaminya kembali. Padahal manfaat bambu tidak hanya sebagai bahan bangunan yang kegunaannya dipandang masih kuno. Beberapa jenis tersebut seperti Dendrochalamus buar, Dendrochalamus hait, dan Fimbribambusa.

    Hal di atas hanyalah beberapa saja, saat ini yang diperlukan adalah kepedulian dan sebelumnya kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan. Dengan begitu Insya Allah hari esok akan jauh lebih baik dari hari ini dan kemarin. Walaupun sebagai manusia tak pernah lepas dari usaha untuk selalu memnuhi kebutuhan yang semakin besar jumlahnya. Akan tetapi, kita tetap harus berusaha melakukan usaha pelestarian atau konservasi, agar tidak menyesal di kemudian hari. Meskipun banyak kendala yang dihadapi dalam melakukan konservasi ini. Salah satu yang menjadi kendala dalam pelestarian keanekaragaman ini adalah kurangnya dana dan ketidak sinerginya kinerja antara pihak terkait, sehingga laju kerusakan hutan yang cukup parah ini. Sungguh ironis memang, banyak warga di perkotaan yang memelihara tanaman yang harganya sangat mahal, bahkan perawatannya pun juga membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sebagai salah satu hobi mereka, atau sekedar mengisi waktu luangnya. Seandainya mereka mau mengalihkan uang yang mereka punya untuk membiayai konservasi , tentu akan sangat berguna sekali. Begitu juga dengan kinerja para pihak terkait mengenai perijinan pengelolaan hutan yang pada akhirnya hak pengelolaan hutan, jatuh ke tangan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

    Saatnya melakukan aksi terkait kepedulian terhadap lingkungan sekarang juga demi terjadinya perubahan pada bumi ini.

    kode html di belakang artikel ini (html code behind this article):

    <p style=”text-align: justify;”>Semakin berkembangnya jaman dan teknologi, lingkungan adalah salah satu yang mengalami dampak buruk. Eksploitasi dilakukan secara besar-besaran, dengan tanpa memperhatikan efeknya terhadap lingkungan. Banyak hutan yang ditebangi, lalu diganti hutan-hutan beton yang menjulang tinggi. Setelah itu daerah sekitar hutan tidak mempunyai peresapan air yang cukup, dan akhirnya bencana tanah longsor dan banjir pun datang, ketika musim hujan tiba. Hal itulah yang sekiranya terjadi di era globalisai seperti saat ini. Di tengah sibuknya kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhanya, banyak hutan dan lingkungan lainnya yang menjadi korban dari tangan-tangan manusia.Hal yang dapat kita lakukan saat ini adalah ikut menjaga kelestarian lingkungan di sekitar kita, seperti ikut menjaga kebersihan lingkungan, ikut menyerukan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan, dan melestarikan keanekaragaman hayati yang semakin berkurang saja dari hari ke hari. Agar pada akhirnya alam tidak berbalik menyerang kita.</p>
    <p style=”text-align: justify;”>Sebagai orang yang bijak, sudah sepantasnya kita bisa merasakan fenomena yang sedang terjadi ini. Untuk melestarikan lingkungan demi anak dan cucu kita di masa yang akan datang. Walaupun demikian, syukurlah saat ini sudah banyak pihak yang menyadari akan fenomena yang sedang terjadi ini. Seperti  UU tentang pencemaran lingkungan yang telah diterbitkan yaitu, Undang-undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 1982: <em>Polusi atau pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan, atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat  tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya</em>. Selain itu juga ada penghargaan-penghargaan seperti adipura atau pun kalpataru, yang kaitanya dengan kebersihan dan pelestarian lingkungan. Dan masih banyak lagi, kesadaran dari banyak pihak untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan. Sehingga akan ada keseimbangan paling tidak antara pencemaran dan pencegahannya.</p>
    <p style=”text-align: justify;”>Indonesia, merupakan salah satu Negara yang memiliki keanekaragaman hayati tertinggi dunia dan merupakan daerah penghasil ozon dunia, karena kebetulan berada di daerah ekuator. Tetapi di lain sisi, Indonesia merupakan salah satu Negara dengan tingkat penebangan dan kerusakan hutan tertinggi di dunia. Kerusakan hutan terjadi di mana-mana, tanpa memperhatikan kelangsungan ekosistem dan satwa yang ada di dalamnya. Laju kerusakan hutan pada tahun 1985-1997 tercatat 1,6 juta hektar per tahun, sedangkan pada tahun 1997-2000 menjadi 3,8 juta hektar per tahun. Lalu, bagaimana dengan saat ini? Tahun 2007 tercatat,ada 574 kasus kejahatan terhadap hutan. Di tahun berikutnya, jumlah kasus turun menjadi 404 kasus. Dari kasus-kasus yang tercatat ini ternyata, hanyalah pelaku kecil saja yang banyak diperiksa.Yang memprihatinkan lagi adalah sebanyak 64-83 persen kayu hasil tebangan adalah berstatus illegal logging.</p>
    <p style=”text-align: justify;”>Dengan tingginya laju kerusakan hutan yang terjadi ini, turut menjadi salah satu penyebab turunnya keanekaragaman hayati yang kita miliki. Keanekaragaman hayati merupakan salah satu kekayaan yang tak ternilai harganya, oleh karena itu, begitu pentingnya masalah pelestarian saat ini. Ada beberapa satwa atau pun tumbuhan di Indonesia yang dilindungi  oleh undang-undang dan saat ini kondisinya dalam keadaan hampir punah. Berikut ini, beberapa satwa yang saat ini dalam keadaan hampir punah:
    <strong> </strong></p>
    <p style=”text-align: justify; padding-left: 30px;”><strong>Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris)</strong></p>
    <p style=”text-align: justify; padding-left: 30px;”>Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, merupakan sungai yang menjadi daerah kegiatan transportasi dan yang lainnya bagi warga sekitar untuk berbagai kepentingan. Semakin padatnya lalu-lintas di sungai Mahakam ternyata ikut mempengaruhi jumlah satwa yang hidup di dalamnya seperti pesut mahakam yang saat ini jumlahnya terus berkurang. Satwa yang dalam nama latinnya ini disebut Orcella brevirostris merupakan hewan asli Indonesia dan dilindungi oleh undang-undang. Semakin hari jumlahnya semakin berkurang, bahkan sekarang satwa ini hampir punah. Usaha-usaha untuk membudidayakannya telah dilakukan, namun tak juga berhasil untuk mengembang biakanya. Yang terpenting lagi ikan ini hanya terdapat pada tiga lokasi di dunia yakni Sungai Mahakam, Sungai Mekong, dan Sungai Irawady.
    Pendangkalan, erosi, pencemaran akibat limbah, dan pengelolaan hutan yang terjadi di sekitar sungai Mahakam adalah beberapa penyebab turunnya populasi satwa ini. Dengan kesadaran dan kepedulian kita, berharap agar tidak akan kehilangan lagi keanekaragaman hayati yang kita miliki.
    <strong> </strong></p>
    <p style=”text-align: justify; padding-left: 30px;”><strong>Elang Jawa (Spizaetus bartelsi)</strong></p>
    <p style=”text-align: justify; padding-left: 30px;”>Satwa yang merupakan salah satu penghuni Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) Sukabumi ini, jumlahnya sekarang tinggal 19 ekor. Kerusakan hutan yang terjadi di taman nasional tersebut, mengakibatkan elang jawa tersebut sulit untuk berkembang biak. (kompas.com)
    Dan masih banyak satwa lainnya yang saat ini jumlahnya sangat memprihatinkan, dan merupakan tugas kita bersama untuk ikut melestarikannya. Sekarang juga perlu dilakukan konservasi terhadap satwa tersebut, sangatlah tepat dilakukan.
    <strong>

    </strong>

    <strong> </strong>

    <strong> </strong>

    <strong> </strong>

    <strong> </strong>

    <strong> </strong>

    <p style=”text-align: justify; padding-left: 30px;”><strong>Anggrek</strong></p>
    <p style=”text-align: justify; padding-left: 30px;”>Sekitar 2.000 dari 5.000 jenis anggrek di Indonesia terancam punah akibat pembabatan hutan dan penyelundupan yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Beberapa jenis anggrek yang kini langka di antaranya, yaitu Phalaenopsis javanica dari Jawa Barat, Cymbidium hartinahianum dari Sumatera Utara, dan Paraphalaenopsis denevii dari Kalimantan. Selain itu, seluruh jenis anggrek Paphiliopedium masuk appendix CITES sebagai jenis anggrek yang tidak boleh diperdagangkan di dalam negeri maupun luar negeri. (kompas.com)
    <strong>Bambu Endemik</strong></p>
    <p style=”text-align: justify; padding-left: 30px;”>Bambu yang beberapa tahun yang lalu sering kita jumpai dan sangat mudah kita jumpai. Saat ini sekitar 30-40 persen dari 88 jenis bambu endemik Indonesia keadaannya terancam. Beberapa faktor di antaranya adalah alih guna lahan, penyelundupan ke luar negeri, belum diketahui manfaatnya, dan penebangan yang berlebihan. Yang memprihatinkan adalah penyelundupan bambu ke luar negeri contohnya dari Yogya ke Amerika Serikat. Di Amerika Serikat, bambu dikembang biakan kemudian dijual dengan harga 1000 dollar AS per batang.</p>
    <p style=”text-align: justify; padding-left: 30px;”>Di Indonesia sendiri, juga belum tahunya masyarakat akan manfaat dari bambu. Sehingga banyak masyarakat yang sesuka hati menebangnya kemudian tidak menanaminya kembali. Padahal manfaat bambu tidak hanya sebagai bahan bangunan yang kegunaannya dipandang masih kuno. Beberapa jenis tersebut seperti Dendrochalamus buar, Dendrochalamus hait, dan Fimbribambusa.</p>
    <p style=”text-align: justify;”>Hal di atas hanyalah beberapa saja, saat ini yang diperlukan adalah kepedulian dan sebelumnya kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan. Dengan begitu Insya Allah hari esok akan jauh lebih baik dari hari ini dan kemarin. Walaupun sebagai manusia tak pernah lepas dari usaha untuk selalu memnuhi kebutuhan yang semakin besar jumlahnya. Akan tetapi, kita tetap harus berusaha melakukan usaha pelestarian atau konservasi, agar tidak menyesal di kemudian hari. Meskipun banyak kendala yang dihadapi dalam melakukan konservasi ini. Salah satu yang menjadi kendala dalam pelestarian keanekaragaman ini adalah kurangnya dana dan ketidak sinerginya kinerja antara pihak terkait, sehingga laju kerusakan hutan yang cukup parah ini. Sungguh ironis memang, banyak warga di perkotaan yang memelihara tanaman yang harganya sangat mahal, bahkan perawatannya pun juga membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sebagai salah satu hobi mereka, atau sekedar mengisi waktu luangnya. Seandainya mereka mau mengalihkan uang yang mereka punya untuk membiayai konservasi , tentu akan sangat berguna sekali. Begitu juga dengan kinerja para pihak terkait mengenai perijinan pengelolaan hutan yang pada akhirnya hak pengelolaan hutan, jatuh ke tangan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.</p>

    <blockquote>
    <h2 style=”text-align: center;”><span style=”color: #ff0000;”>Saatnya melakukan aksi terkait kepedulian terhadap lingkungan sekarang juga demi terjadinya perubahan pada bumi ini.</span></h2>
    </blockquote>