Perempuan (tokoh perempuan, kesetaraan gender, dan perempuan masa kini)

Perempuan adalah mutiara yang suci dan tak ternilai harganya, mungkin itu yang biasa dikatakan oleh para penyair. Namun lebih dari itu perempuan adalah sosok seorang ibu bagi anaknya. Yang mana kualitas seorang anak itu juga berkat ibunya dan anak merupakan generasi penerus suatu bangsa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa suatu Negara yang besar adalah Negara yang memiliki penerus yang dapat bersaing, apalagi di era global seperti ini. Nah, dari sini kita dapat melihat betapa besar peranan seorang perempuan itu dalam sebuah Negara pada umumnya. Di masa lalu perempuan merupakan kaum yang terbelakang dibandingkan dengan kaum laki-laki, tetapi dengan seiring berjalanya waktu dan pola pandang masyarakat yang dipengaruhi oleh berbagai faktor perempuan dapat berkiprah dan berkarya dimanapun dan kapanpun mereka berada seperti dengan kebebasan yang dimiliki oleh kaum laki-laki. Tentu saja hal ini tidak begitu saja terjadi , namun juga karena berkat perjuangan perempuan itu sendiri. Di masa sekarang ini, masalah kesetaraan gender adalah masalah yang sering kita dengar.Walaupun dalam agama Islam tidak mengenal yang namanya gender atau pemisahan antar jenis individu secara biologis, namun itu perlu dipelajari karena untuk mengetahui bagaimana pola pandang masyarakat terhadap ini. Dan perlakuan terhadap perempuan di masa sekarangpun sudah jauh berbeda dengan masa lalu. Bahkan kini penghargaan –penghargaan terhadap jasa perempuan telah diberikan, seperti hari internasional perempuan, hari kartini, konferensi-konferensi yang berhubungan dengan perempuan, dan masih banyak penghargaan-penghargaan lainnya.
Lalu bagaimana nasib perempuan di masa lalu? Perempuan mengalami suatu keterbelakangan. Jika kita membaca sejarah, konsep pembagian peran antara laki-laki dan perempuan itu ada di masyarakat Barat dan Eropa. Dimana perempuan berada dalam wilayah yang khusus atau privat dan perempuan merupakan simbol kebudayaan, sedangkan laki-laki berada di wilayah umum atau publik. Misalnya perempuan hanya di rumah, mengurusi rumah, dan membesarkan anak. Sedangkan wilayah laki-laki adalah di luar rumah, di pabrik, atau di pasar sebagai gentleman.sehingga muncul image atau kesan bahwa laki-laki lebih unggul dari perempuan. Seiring dengan masuknya jaman imperialisme yang berasal dari Eropa ke Indonesia, pola pandang seperti itu mulai memepengaruhi pola pandang masyarakat Indonesia juga yang sudah dipengaruhi pola pandang dari faktor kebudayaan sebelumnya dan yang lainnya . Sehingga perempuan Indonesia mengalami keterbelakangan dibandingkan kaum laki-laki. Meskipun demikian kaum perempuan Indonesi juga telah mengenal emansipasi wanita, hal ini terbukti dengan munculnya nama-nama pahlawan nasional kita yang berasal dari kaum perempuan. Seperti Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, Dewi Sartika, R. A. Kartini, Martha Christina Tiahahu, dan lain-lain. Yang turut ambil bagian dalam terbentuknya Negara Indonesia. Dari sedikit ulasan di atas dapat menggambarkan betapa penting peran perempuan untuk Negara ini.
Walaupun telah dijelaskan di atas betapa besar dan penting peran perempuan itu, namun di masa sekarang masih tetap saja ada yang mengalami keterbelakangan, seperti kekerasan, perdagangan perempuan, pelecehan seksual, penindasan, dan sebagainya. Hal tersebut yang sering kita lihat di media massa. Akan tetapi hal tersebut, kita dapat ambil hikmahnya, bahwa dengan adanya hal tersebut lahirlah suatu UU (Undang-Undang) yang mengatur tentang perlindungan terhadap perempuan, juga muncul tokoh-tokoh perempuan masa kini. Seperti aktivis perempuan dan juga terdapat komisi nasional perempuan. Hal tersebut dilakukan juga karena atas dasar studi gender yang mempelajari bagaimana karakteristik suatu jenis individu itu sendiri dari faktor sosial, perempuan yang dikonotasikan mengedepankan perasaan, lembut, irrasional, dan lain-lain.
Di era globalisasi ini, dimana persaingan antar Negara semakin ketat. Perempuan telah mampu menduduki jabatan-jabatan yang biasanya dipegang oleh kaum laki-laki, bahkan bisa dibilang identik dengan kaum laki-laki. Jabatan sebagai pemimpin pun, juga telah diduduki oleh kaum perempuan. Seperti di Indonesia dimana jabatan seperti mulai dari ketua organisasi, anggota legislatif, kepala daerah, mentri, bahkan jabatan tertinggi sebgai pemimpin yaitu presiden pun, pernah diduduki oleh kaum perempuan. Bisa dibilang mereka ini sebagai pemimpin wanita. Hal yang demikian tidak hanya di Indonesia, di luar negri pun jabatan-jabatan tersebut juga pernah diduduki oleh kaum perempuan. Mereka adalah tokoh-tokoh perempuan cerminan tokoh masa lalu yang ada sekarang ini. Para tokoh tersebut tetap menjalani jabatan tersebut, namun dengan tidak meninggalkan tugasnya sebagai perempuan yang sesungguhnya dalam suatu keluarga, di mana laki-laki sebagai imam dan perempuan adalah makmumnya. Namun, ternyata ada Negara yang masih memepertimbangkan perempuan dalam suatu kegiatan pemerintahan dan lainnya. Seperti Jepang yang membuat suatu aturan di mana seorang perempuan yang telah menikah, maka “stop-kerjanya”. Mereka memiliki paham, bahwa wanita bertugas untuk merawat anaknya menjadi generasi penerus yang siap bersaing, semantara itu para lelaki bertugas untuk mencari nafkah. Walupun demikian tidak menghilangkan kebebasan pada kaum perempuan.
Salah satu tokoh perempuan yang terkenal, yaitu adalah Cut Nyak Dhien. Seorang perempuan yang berani menentang imperialisme yang dilakukan oleh Belanda di Aceh. Walaupun beliau bukanlah tokoh masa kini, namun kisah perjuangannya di masa lalu dapat memotivasi perempuan pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Untuk melakukan hal yang begitu mulia, yaitu rela berkorban. Hal tersebut bukan hanya sebuah pernyataan tanpa alasan tetapi dengan alasan. Cut Nyak Dhien adalah seorang perempuan yang lahir dari keluarga bangsawan yang taat agama. Pada masa kecilnya, Cut Nyak Dhien memperoleh pendidikan rumah tangga (memasak, melayani suami, dan kegiatan lainnya dari orang tuanya) dan pendidikan agama (dididik oleh orang tuanya dan guru agamanya). Pada usia 12 tahun Cut Nyak Dhien dinikahkan dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga. Pada tahun 1873, perang Aceh meletus, Belanda mulai menyerang Aceh dan langsung menguasai Masjid Baiturrahman dan membakarnya. Cut Nyak Dhien yang melihat ini langsung berteriak kepada rakyat Aceh, untuk melakukan perlawanan pada Belanda. Hingga pada akhirnya suami Cut Nyak Dhien meninggal pada tahun 1878 oleh Belanda, hal ini mengakibatkan kemarahan pada dirinya. Setelah itu, Cut Nyak Dhien ikut bertempur melawan Belanda bersama Teuku Umar. Hingga dihari tuanya Cut Nyak Dhien berhasil ditangkap oleh Belanda dan meninggal dunia.
Seandainya tokoh perempuan itu di masa sekarang, tentu saja perjuangannya pun juga bebeda. Dari pembahasan di atas seorang tokoh perempuan sekarang tentu saja telah mengalami juga suatu perjuangan untuk mendapatkan suatu yang telah mereka dapatkan saat ini. Bahkan dengan adanya keterwakilan perempuan dalam sebuah lembaga dewan legislatif misalnya, dapat ikut serta mewarnai kebijakan-kebiajakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Dengan tetap mengutamakan keberpihakan pada wanita dan masyarakat pada umumnya. Akan tetapi para perempuan ini tetap tidak melupakan tugas yang sebenarnya, sebagai perempuan yang sesungguhnya dalam kehidupan berkeluarga.

3 thoughts on “Perempuan (tokoh perempuan, kesetaraan gender, dan perempuan masa kini)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s