APA YANG DIHASILKAN DI KOPENHAGEN?

cop15


Kerusakan lingkungan semakin menjadi, hal itu berdampak besar terhadap perubahan iklim yang terjadi di berbagai belahan bumi saat ini. Istilah yang sering digunakan akibat dari kerusakan itu adalah “pemanasan global” atau “global warming” dalam bahasa asing. Timbul sebagai dampak dari pembuangan emisi karbondioksida besar-besaran oleh aktivitas industri, transportasi, dan lainnya. Termasuk penggusuran lahan bagi tumbuh-tumbuhan terutama di daerah tropis yang menjadi penghasil ozon terbesar di bumi. Lahan–lahan tersebut diganti oleh pohon-pohon beton yang menjulang tinggi dan menandai bagaimana kemajuan suatu bangsa itu sendiri.

Sebenarnya, bagaimana pemanasan global itu? Pemanasan global adalah naiknya suhu rata-rata permukaan bumi akibat panas matahari yang terperangkap oleh karbondioksida yang melebihi kadar batas normal. Panas matahari yang seharusnya dapat dipantulkan lagi ke luar angkasa oleh atmosfer itu, kini terperangkap di lapisan atmosfer bumi. Dengan demikian suhu rata-rata bumi pun naik hingga satu derajat celcius per tahun dan juga menyebabkan naiknya permukaan air laut kira-kira 15 cm. Naiknya suhu rata-rata ini menyerupai efek yang biasa dirasakan ketika sedang berada di dalam rumah kaca, oleh sebab itu juga ada istilah “efek rumah kaca” atau “greenhouse effect”. Banyak kehidupan yang ada saat ini sangat terganggu dengan semakin tingginya suhu rata-rata di bumi ini. Jika pencemaran, perburuan, atau yang lainnya mungkin hanya akan mengganggu satu atau beberapa ekologi saja, maka pemanasan global dapat mengganggu ekosistem atau ekologi secara keseluruhan. Dan itu berarti permasalahan ini bukanlah persoalan yang bisa disepelekan begitu saja, karena hal ini menyangkut perubahan iklim yang tentu dampaknya amat serius bagi kehidupan.

Dalam permasalahan yang serius ini, memang sudah dilakukan upaya-upaya sejak masalah ini belum terlalu serius diurusi seperti sekarang. Protokol-protokol, undang-undang, serta peraturan lainnya telah dibuat untuk mengatur segala kemungkinan yang mungkin ditimbulkan akibat dari kegiatan yang dapat menimbulkan bahaya terhadap lingkungan. Khususnya negara-negara maju yang merupakan penghasil emisi gas karbondioksida terbesar ini seharusnya lebih serius dibanding negara berkembang dan berupaya memunculkan ide-ide yang dapat mengatasi permasalahan yang sedang terjadi ini. Dan kembali lagi, permasalahan tentang perubahan iklim.

Dilatar belakangi oleh peristiwa-peristiwa itu juga karena hampir habisnya masa berlaku protokol Kyoto tahun 2012 serta melanjuti pertemuan dua tahun lalu di Bali. Beberapa realisasi telah dilakukan dari pertemuan-pertemuan internasional yang telah dilakukan. Dan untuk menanggapinya juga maka di penghujung tahun 2009 ini juga diadakan pertemuan yang bertempat di Copenhagen, Denmark (Cop15). Berupaya mendapatkan sebuah kesepakatan yang bisa mengatasi masalah yang ada saat ini.

Topik tentang perubahan iklim menjadi masalah yang hangat di Kopenhagen, Denmark beberapa waktu yang lalu. Delegasi-delegasi dari berbagai negara berkumpul untuk membahas masalah yang menyangkut masa depan bumi tempat mereka dan semua orang sekarang tinggal. Pertemuan ini berlangsung selama dua minggu, dan diikuti oleh 192 negara. Pasukan-pasukan telah disiapkan untuk menghadapi segala ancaman atau gangguan dari luar.Pertemuan ini hingga hari ke-7 belum juga mencapai kesepakatan, padahal mereka telah mencapai separuh waktu. Pertemuan ini juga diwarnai dengan walkout para peserta dan juga beberapa insiden yang tidak menyenangkan lainnya.

Sementara itu, delegasi Indonesia diwakili oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. SBY datang dengan ambisi memainkan peran besar sebagai mediator antara negara-negara kaya dan negara-negara miskin. Akan tetapi rencana yang dibuat itu tidak berjalan seperti yang diinginkan. Nyatanya Indonesia tidak terlalu memainkan peran besar sebagai jembatan antar negara maju dan berkembang. Bahkan dalam liputan media internasional pun peran Indonesia jarang disebut. Padahal orang-orang menaruh harapan besar pada presiden untuk bisa menunjukkan diplomasi kuat selama konferensi berlangsung. Apalagi, sebenarnya Indonesia memiliki daya tawar yang kuat dibanding negara lain karena Indonesia adalah negara kepulauan dan memiliki wilayah hutan yang luas. Seharusnya Indonesia mau mengambil sikap yang tegas dan sikap yang jelas sejak awal konferensi serta mampu menjadi pemimpin bagi negara-negara berkembang untuk saling tawar-menawar dengan negara-negara maju.

Dan akhirnya di hari terakhir pertemuan tingkat tinggi ini berhasil membuat beberapa keputusan berupa poin-poin, akan tetapi hasil kesepakatan itu nyatanya tidak mengikat bagi para penghasil emisi dan sebagainya secara hukum serta tidak adanya target yang menyatakan berapa persen pengurangan emisi gas rumah kaca untuk selanjutnya. Ada yang menilai bahwa pertemuan kali ini mendekati gagal atau di pinggir jurang kegagalan.

kode html di belakang artikel ini (html code behind this article):

<div style=”border: 10px ridge lime; padding: 20px;”>
<p style=”text-align: center;”><img title=”cop15″ src=”http://www.denmark.net/files/images/cop15.png&#8221; alt=”cop15″ width=”70%” height=”70%” align=”center” /></p> 

<div style=”text-align: justify;”><span style=”font-family: ”snap;”>
</span><span style=”font-family: ”snap;”>Kerusakan lingkungan semakin menjadi, hal itu berdampak besar terhadap perubahan iklim yang terjadi di berbagai belahan bumi saat ini. Istilah yang sering digunakan akibat dari kerusakan itu adalah “pemanasan global” atau <em>“global warming”</em> dalam bahasa asing. Timbul sebagai dampak dari pembuangan emisi karbondioksida besar-besaran oleh aktivitas industri, transportasi, dan lainnya. Termasuk penggusuran lahan bagi tumbuh-tumbuhan terutama di daerah tropis yang menjadi penghasil ozon terbesar di bumi. Lahan–lahan tersebut diganti oleh pohon-pohon beton yang menjulang tinggi dan menandai bagaimana kemajuan suatu bangsa itu sendiri. </span>

<span style=”font-family: ”snap;”>Sebenarnya, bagaimana pemanasan global itu? Pemanasan global adalah naiknya suhu rata-rata permukaan bumi akibat panas matahari yang terperangkap oleh karbondioksida yang melebihi kadar batas normal. Panas matahari yang seharusnya dapat dipantulkan lagi ke luar angkasa oleh atmosfer itu, kini terperangkap di lapisan atmosfer bumi. Dengan demikian suhu rata-rata bumi pun naik hingga satu derajat celcius per tahun dan juga menyebabkan naiknya permukaan air laut kira-kira 15 cm. Naiknya suhu rata-rata ini menyerupai efek yang biasa dirasakan ketika sedang berada di dalam rumah kaca, oleh sebab itu juga ada istilah “efek rumah kaca” atau <em>“greenhouse effect”</em>. Banyak kehidupan yang ada saat ini sangat terganggu dengan semakin tingginya suhu rata-rata di bumi ini. Jika pencemaran, perburuan, atau yang lainnya mungkin hanya akan mengganggu satu atau beberapa ekologi saja, maka pemanasan global dapat mengganggu ekosistem atau ekologi secara keseluruhan. Dan itu berarti permasalahan ini bukanlah persoalan yang bisa disepelekan begitu saja, karena hal ini menyangkut perubahan iklim yang tentu dampaknya amat serius bagi kehidupan. </span>

<span style=”font-family: ”snap;”>Dalam permasalahan yang serius ini, memang sudah dilakukan upaya-upaya sejak masalah ini belum terlalu serius diurusi seperti sekarang. Protokol-protokol, undang-undang, serta peraturan lainnya telah dibuat untuk mengatur segala kemungkinan yang mungkin ditimbulkan akibat dari kegiatan yang dapat menimbulkan bahaya terhadap lingkungan. Khususnya negara-negara maju yang merupakan penghasil emisi gas karbondioksida terbesar ini seharusnya lebih serius dibanding negara berkembang dan berupaya memunculkan ide-ide yang dapat mengatasi permasalahan yang sedang terjadi ini. Dan kembali lagi, permasalahan tentang perubahan iklim. </span>

<span style=”font-family: ”snap;”>Dilatar belakangi oleh peristiwa-peristiwa itu juga karena hampir habisnya masa berlaku protokol Kyoto tahun 2012 serta melanjuti pertemuan dua tahun lalu di Bali. Beberapa realisasi telah dilakukan dari pertemuan-pertemuan internasional yang telah dilakukan. Dan untuk menanggapinya juga maka di penghujung tahun 2009 ini juga diadakan pertemuan yang bertempat di Copenhagen, Denmark (Cop15). Berupaya mendapatkan sebuah kesepakatan yang bisa mengatasi masalah yang ada saat ini. </span>

<span style=”font-family: ”snap;”>Topik tentang perubahan iklim menjadi masalah yang hangat di Kopenhagen, Denmark beberapa waktu yang lalu. Delegasi-delegasi dari berbagai negara berkumpul untuk membahas masalah yang menyangkut masa depan bumi tempat mereka dan semua orang sekarang tinggal. Pertemuan ini berlangsung selama dua minggu, dan diikuti oleh 192 negara. Pasukan-pasukan telah disiapkan untuk menghadapi segala ancaman atau gangguan dari luar.Pertemuan ini hingga hari ke-7 belum juga mencapai kesepakatan, padahal mereka telah mencapai separuh waktu. Pertemuan ini juga diwarnai dengan walkout para peserta dan juga beberapa insiden yang tidak menyenangkan lainnya.</span>

<span style=”font-family: ”snap;”>Sementara itu, delegasi Indonesia diwakili oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. SBY datang dengan ambisi memainkan peran besar sebagai mediator antara negara-negara kaya dan negara-negara miskin. Akan tetapi rencana yang dibuat itu tidak berjalan seperti yang diinginkan. Nyatanya Indonesia tidak terlalu memainkan peran besar sebagai jembatan antar negara maju dan berkembang. Bahkan dalam liputan media internasional pun peran Indonesia jarang disebut. Padahal orang-orang menaruh harapan besar pada presiden untuk bisa menunjukkan diplomasi kuat selama konferensi berlangsung. Apalagi, sebenarnya Indonesia memiliki daya tawar yang kuat dibanding negara lain karena Indonesia adalah negara kepulauan dan memiliki wilayah hutan yang luas. Seharusnya Indonesia mau mengambil sikap yang tegas dan sikap yang jelas sejak awal konferensi serta mampu menjadi pemimpin bagi negara-negara berkembang untuk saling tawar-menawar dengan negara-negara maju. </span>
<p style=”text-align: justify;”><span style=”font-family: ”snap;”>Dan akhirnya di hari terakhir pertemuan tingkat tinggi ini berhasil membuat beberapa keputusan berupa poin-poin, akan tetapi hasil kesepakatan itu nyatanya tidak mengikat bagi para penghasil emisi dan sebagainya secara hukum serta tidak adanya target yang menyatakan berapa persen pengurangan emisi gas rumah kaca untuk selanjutnya.  Ada yang menilai bahwa pertemuan kali ini mendekati gagal atau di pinggir jurang kegagalan. </span></p>
<span style=”font-family: ”snap;”> </span>

</div>
</div>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s