PENGKATEGORIAN BERMASALAH

Berkaitan dengan 2 faktor yang sering dijumpai, yang pertama adalah faktor internal dan yang ke dua adalah pasangannya, yaitu faktor eksternal. Faktor pertama merupakan sebuah faktor yang kemunculannya berasal dari dalam atau berawal dari diri seseorang, akan tetapi faktor ini dalam prosesnya tidak secepat faktor eksternal dan memang faktor internal sering kali dipengaruhi oleh faktor eksternal yang begitu mudah dalam memasuki diri seseorang termasuk juga di dalamnya kerelatifan dari perspektif masing-masing. Namun, juga tidak sepenuhnya pengaruh dari faktor ke dua. Dalam kenyataannya, beberapa faktor internal merupakan sebuah penciptaan dari dalam diri seseorang itu sendiri. Dan mungkin sekali faktor internal ini menjadi faktor eksternal bagi sudut pandang orang lain. Faktor eksternal atau faktor ke dua, yaitu faktor yang begitu berat untuk dibendung. Seringkali suatu penolakan terhadap pengaruh dari faktor ini mengalami kegagalan dan memang lazimnya seseorang memang mudah membuka pintu dari pengaruh ini, terutama pengaruh dari suatu kebiasaan yang diamati pertama kali dan pengaruh dari sebuah pengulangan kejadian dalam kesehariannya.

Lalu, bagaimana jadinya jika pertemuan antara kedua faktor tersebut menghasilkan seseorang yang memiliki kecenderungan untuk melakukan suatu pengkategorian terhadap suatu hal atau peristiwa yang telah tertangkap panca inderanya?

Tanpa penjelasan tentang kedua faktor dari perspektif orang-orang yang memiliki kecenderungan ini, langsung saja kembali ke judul dari tulisan ini, yaitu tentang pengkategorian bermasalah.

Dalam hal ini, kata bermasalah berarti pada artikel ini adalah pembahasan dari segi yang memandang bahwa sebuah peristiwa ini sebagai sesuatu yang bermasalah walaupun pada akhirnya juga diutarakan tentang beberapa kebaikan yang jelas saja melenceng dari artian bermasalah pada umumnya tentu dari segi yang berbeda dari sebelumnya. Bukankah tidak salah jika ingin mencoba menyajikan sesuatu yang berimbang tanpa ada suatu pemihakan dalam hal tertentu.

Kecenderungan untuk melakukan pengkategorian terhadap sesuatu telah membuat seseorang menyerap apa yang telah dilakukan itu (pengkategorian). Menyerap ini juga bisa diartikan bahwa seseorang akan juga terpengaruh oleh apa yang ia lakukan sendiri. Lalu bermasalah yang manakah yang dimaksud? Pengkategorian yang telah dilakukan terhadap suatu kebiasaan terhadap 2 atau lebih daerah yang memiliki letak geografis yang berbeda. Sebenarnya tidaklah salah pengkategorian yang dilakukan ini, namun jumlah dan atau intensitas maupun kadar keterdegradasian sebuah pengkategorian inilah yang rasa-rasanya keterlaluan sehingga memberi dampak yang bermasalah bagi orang yang melakukannya. Beberapa masalah itu adalah kesulitan dalam menjadikan diri (mengambil peran atau posisi) termasuk anggota dalam suatu komunitas yang sebenarnya tidaklah terlalu sulit bagi orang lain.

Kecenderungan yang berlebih dalam melakukan pengkategorian inilah yang sebenarnya bermasalah, sehingga seseorang yang melakukannya akan mengalami kesulitan dan dilema dalam mengambil suatu keputusan untuk dirinya maupun untuk selain dirinya. Ada bagusnya juga pengkategorian seperti ini, dalam hal ini jika seseorang mampu menangkal pengaruh dari pengkategorian yang dilakukannya. Dengan demikian, pengkategorian yang telah dilakukan dapat dilakukan sebagai dasar atau acuan dalam menilai atau membaca suatu keadaan yang dimungkinkan mudah untuk ditebak dan mengetahui bagaimana antisipasi atau jalan keluarnya termasuk dalam membuat suatu perhitungan atau sebuah rencana.Bukankah ini luar biasa?! Namun sifatnya yang statis juga perlu disiasati, karena dengan mudah keadaan seseorang itu dapat berubah

kode html di belakang artikel ini (html code behind this article):

<p style=”text-align: justify;”>Berkaitan dengan 2 faktor yang sering dijumpai, yang pertama adalah faktor internal dan yang ke dua adalah pasangannya, yaitu faktor eksternal. Faktor pertama merupakan sebuah faktor yang kemunculannya berasal dari dalam atau berawal dari diri seseorang, akan tetapi faktor ini dalam prosesnya tidak secepat faktor eksternal dan memang faktor internal sering kali dipengaruhi oleh faktor eksternal yang begitu mudah dalam memasuki diri seseorang termasuk juga di dalamnya kerelatifan dari perspektif masing-masing. Namun, juga tidak sepenuhnya pengaruh dari faktor ke dua. Dalam kenyataannya, beberapa faktor internal merupakan sebuah penciptaan dari dalam diri seseorang itu sendiri. Dan mungkin sekali faktor internal ini menjadi faktor eksternal bagi sudut pandang orang lain. Faktor eksternal atau faktor ke dua, yaitu faktor yang begitu berat untuk dibendung. Seringkali suatu penolakan terhadap pengaruh dari faktor ini mengalami kegagalan dan memang lazimnya seseorang memang mudah membuka pintu dari pengaruh ini, terutama pengaruh dari suatu kebiasaan yang diamati pertama kali dan pengaruh dari sebuah pengulangan kejadian dalam kesehariannya.</p>
<p style=”text-align: justify;”>Lalu, bagaimana jadinya jika pertemuan antara kedua faktor tersebut menghasilkan seseorang yang memiliki kecenderungan untuk melakukan suatu pengkategorian terhadap suatu hal atau peristiwa yang telah tertangkap panca inderanya?</p>
<p style=”text-align: justify;”>Tanpa penjelasan tentang kedua faktor dari perspektif orang-orang yang memiliki kecenderungan ini, langsung saja kembali ke judul dari tulisan ini, yaitu tentang pengkategorian bermasalah.</p>
<p style=”text-align: justify;”>Dalam hal ini, kata bermasalah berarti pada artikel ini adalah pembahasan dari segi yang memandang bahwa sebuah peristiwa ini sebagai sesuatu yang bermasalah walaupun pada akhirnya juga diutarakan tentang beberapa kebaikan yang jelas saja melenceng dari artian bermasalah pada umumnya tentu dari segi yang berbeda dari sebelumnya. Bukankah tidak salah jika ingin mencoba menyajikan sesuatu yang berimbang tanpa ada suatu pemihakan dalam hal tertentu.</p>
<p style=”text-align: justify;”>Kecenderungan untuk melakukan pengkategorian terhadap sesuatu telah membuat seseorang menyerap apa yang telah dilakukan itu (pengkategorian). Menyerap ini juga bisa diartikan bahwa seseorang akan juga terpengaruh oleh apa yang ia lakukan sendiri. Lalu bermasalah yang manakah yang dimaksud? Pengkategorian yang telah dilakukan terhadap suatu kebiasaan terhadap 2 atau lebih daerah yang memiliki letak geografis yang berbeda. Sebenarnya tidaklah salah pengkategorian yang dilakukan ini, namun jumlah dan atau intensitas maupun kadar keterdegradasian sebuah pengkategorian inilah yang rasa-rasanya keterlaluan sehingga memberi dampak yang bermasalah bagi orang  yang melakukannya. Beberapa masalah itu adalah kesulitan dalam menjadikan diri (mengambil peran atau posisi) termasuk anggota dalam suatu komunitas yang sebenarnya tidaklah terlalu sulit bagi orang lain.</p>
<p style=”text-align: justify;”>Kecenderungan yang berlebih dalam melakukan pengkategorian inilah yang sebenarnya bermasalah, sehingga seseorang yang melakukannya akan mengalami kesulitan dan dilema dalam mengambil suatu keputusan untuk dirinya maupun untuk selain dirinya. Ada bagusnya juga pengkategorian seperti ini, dalam hal ini jika seseorang mampu menangkal pengaruh dari pengkategorian yang dilakukannya. Dengan demikian, pengkategorian yang telah dilakukan dapat dilakukan sebagai dasar atau acuan dalam menilai atau membaca suatu keadaan yang dimungkinkan mudah untuk ditebak dan mengetahui bagaimana antisipasi atau jalan keluarnya termasuk dalam membuat suatu perhitungan atau sebuah rencana.<big>Bukankah ini luar biasa?!</big> Namun sifatnya yang statis juga perlu disiasati, karena dengan mudah keadaan seseorang itu dapat berubah</p>

2 thoughts on “PENGKATEGORIAN BERMASALAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s