Al Biruni; Matematikawan, Fisikawan, Antropolog, Astronom, Ahli Farmasi, Ahli Geodesi, Filsuf, Pengembara, dan Guru

Salah satu bukti kemajuan yang dicapai oleh masa kejayaan Islam tempo dulu adalah berkembangnya ilmu pengetahuan. Dengan ilmuwan-ilmuwannya para sarjana muslim yang telah menuangkan ide-ide dan gagasan mengenai sebuah masalah yang sedang dipelajarinya. Kemudian mereka membukukan hasil karyanya itu ke dalam sebuah buku atau pun kitab. Yang berabad-abad telah menjadi rujukan bagi berbagai cabang ilmu pengetahuan. Saat ini ilmu pengetahuan modern telah dapat mengambil manfaat dari pengembangan ilmu yang dirintis oleh para ilmuwan serta sarjana Muslim tempo dulu ini.

Salah satu tokoh yang luar biasa besar jasanya terhadap dunia ilmu pengetahuan. Menjadi seorang peletak dasar beberapa ilmu pengetahuan. Dia adalah Al Biruni, beragam cabang ilmu pengetahuan dikuasainya, hal ini telah menjadikannya seorang tokoh ilmuwan yang dikagumi dan tercatat dalam sejarah sebagai ilmuwan terbesar Islam yang pernah ada. Perjalanan hidupnya disumbangkan untuk dunia ilmu pengetahuan, melakukan penelitian, pengkajian, dan kemudian beberapa hasil penelitiannya telah dibukukan. Dan menjadi sumber referensi bagi dunia pendidikan selama berabad-abad.

Memiliki nama lengkap Abu Rayhan Muhammad Ibnu Ahmad Al-Biruni, berasal dari abad ke-10 M (973 M). Lahir di kota Kath (ibu kota kerajaan Khawarizm Turkmenistan)sekarang adalah kota Khiva, di sekitar wilayah aliran Sungai Oxus, Uzbekistan. Nama Al Biruni sendiri berarti “asing” hal ini diambil dari nama daerah asalnya Turkmenistan. Karena pada saat itu Turkmenistan merupakan tempat yang dikhususkan bagi orang-orang asing. Dibesarkan dalam keluarga yang taat beragama dan tumbuh dewasa dalam lingkungan yang mencintai ilmu pengetahuan. Dengan demikian menjadikan Al Biruni, seorang ulama yang tawadlu ini gemar membaca dan menulis sejak remaja. Tak heran bila kemudian masih di usia muda ia sudah tersohor sebagai seorang ahli di banyak bidang ilmu.

    Berikut ini adalah riwayat singkatnya:

  • Pada usia 17 tahun, dia mulai menggeluti sains dengan serius. Dia menghitung garis lintang kota tempatnya tinggal dengan mengamati ketinggian maksimum matahari.
  • Di usia 20 tahun inilah Al Biruni mulai menulis beberapa karya di bidang sains.
  • Ketika berusia 22 tahun, dia menulis sejumlah karya pendek. Salah satunya yang masih bertahan hingga kini adalah Cartography, penelitiannya tentang perpetaan. Al-Biruni mengkaji berbagai macam peta yang ada pada saat itu dan menuliskan hasil studinya. Selain itu, dia membuat peta belahan bumi versinya sendiri.
  • Pada tahun 1017 M hingga 1030 M, Al-Biruni mendapat kesempatan untuk melancong ke India bersama tim ekspedisi Sultan Mahmoud, Al Biruni tak henti-hentinya mengais ilmu pengetahuan. Di sana ia belajar tentang seluk beluk India, kebudayaan atau adat istiadat, tulisan, bahasa, dan sejarah mengenai India. Selain itu, ia juga belajar filsafat Hindu pada sarjana setempat. Al Biruni membukukan hasil karyanya itu ke dalam sebuah buku yang berjudul Tarikhul Al Hindy. Karena hasil penelitiannya ini, Al Biruni dinobatkan sebagai ‘antropolog pertama’ seantero jagad.. Selama 13 tahun, sang ilmuwan Muslim itu mengkaji tentang seluk beluk India hingga melahirkan apa yang disebut indologi atau studi tentang India. Di negeri Hindustan itu, Al-Biruni mengumpulkan beragam bahan bagi penelitian monumental yang dilakukannya. Dia mengorek dan menghimpun sejarah, kebiasaan, keyakian atau kepecayaan yang dianut masyarakat di sub-benua India (http://www.gaulislam.com/al-biruni-ilmuwan-pendiri-tiga-ilmu). Dari kegiatannya ini, Al Biruni tercatat sebagai seorang antropolog pertama.
  • Pada saat menjelang akhir hayatnya, beliau dikunjungi oleh tetangganya yang merupakan ahli fiqih. Abu Rayhan masih dalam keadaan sadar, dan tatkala melihat sang ahli fiqih, dia bertanya kepadanya tentang hukum waris dan beberapa hal yang berhubungan dengannya. Sang ahli fiqih terkesima melihat seseorang yang sekarat masih tertarik dengan persoalan-persoalan tersebut. Abu Rayhan berkata, “Aku ingin bertanya kepadamu: mana yang lebih baik, meninggal dengan ilmu atau meninggal tanpanya?” Sang ahli fiqih menjawab, “Tentu saja lebih baik mengetahui dan kemudian meninggal.” Abu Rayhan berkata, “Untuk itulah aku menanyakan pertanyaanku yang pertama.” Beberapa saat setelah sang ahli fiqih tiba dirumahnya, tangisan duka mengatakan kepadanya bahwa Abu Rayhan telah meninggal dunia. (Murtaza Mutahhari: Khutbah Keagamaan) (http://umarhapsoro.blogdetik.com/index.php/archives/33)

Selama perjalanan hidupnya, beliau telah menghasilkan ratusan karya yang beberapa diantaranya masih dan sebagiannya sudah tidak ada lagi. Tidak dapat ternilai jasa-jasanya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan saat ini.

Sebuah ilustrasi fase bulan karya Abu Rayhan Muhammad Ibnu Ahmad Al-Biruni

kode html di belakang artikel ini (html code behind this article):

<p style=”text-align: justify;”>Salah satu bukti kemajuan yang dicapai oleh masa kejayaan Islam tempo dulu adalah berkembangnya ilmu pengetahuan. Dengan ilmuwan-ilmuwannya para sarjana muslim yang telah menuangkan ide-ide dan gagasan mengenai sebuah masalah yang sedang dipelajarinya. Kemudian mereka membukukan hasil karyanya itu ke dalam sebuah buku atau pun kitab. Yang berabad-abad telah menjadi rujukan bagi berbagai cabang ilmu pengetahuan. Saat ini ilmu pengetahuan modern telah dapat mengambil manfaat dari  pengembangan ilmu yang dirintis oleh para ilmuwan serta sarjana Muslim tempo dulu ini.</p>
<p style=”text-align: justify;”>Salah satu tokoh yang luar biasa besar jasanya terhadap dunia ilmu pengetahuan. Menjadi seorang peletak dasar beberapa ilmu pengetahuan. Dia adalah Al Biruni, beragam cabang ilmu pengetahuan dikuasainya, hal ini telah menjadikannya seorang tokoh ilmuwan yang dikagumi dan tercatat dalam sejarah sebagai ilmuwan terbesar Islam yang pernah ada. Perjalanan hidupnya disumbangkan untuk dunia ilmu pengetahuan, melakukan penelitian, pengkajian, dan kemudian beberapa hasil penelitiannya telah dibukukan.  Dan menjadi sumber referensi bagi dunia pendidikan selama berabad-abad.</p>
<p style=”text-align: justify;”>Memiliki nama lengkap <strong>Abu Rayhan Muhammad Ibnu Ahmad Al-Biruni</strong>, berasal dari abad ke-10 M (973 M). Lahir  di kota Kath (ibu kota kerajaan Khawarizm Turkmenistan)sekarang adalah kota Khiva, di sekitar wilayah aliran Sungai Oxus, Uzbekistan. Nama Al Biruni sendiri berarti “asing” hal ini diambil dari nama daerah asalnya Turkmenistan. Karena pada saat itu Turkmenistan merupakan tempat yang dikhususkan bagi orang-orang asing. Dibesarkan dalam keluarga yang taat beragama dan tumbuh dewasa dalam lingkungan yang mencintai ilmu pengetahuan. Dengan demikian menjadikan Al Biruni, seorang ulama yang tawadlu ini gemar membaca dan menulis sejak remaja. Tak heran bila kemudian masih di usia muda ia sudah tersohor sebagai seorang ahli di banyak bidang ilmu.</p>

<ul type=”circle”>Berikut ini adalah riwayat singkatnya:
<li style=”text-align: justify;”>Pada usia 17 tahun, dia mulai menggeluti sains dengan serius. Dia menghitung garis lintang kota tempatnya tinggal dengan mengamati ketinggian maksimum matahari.</li>
<li style=”text-align: justify;”>Di usia 20 tahun inilah Al Biruni mulai menulis beberapa karya di bidang sains.</li>
<li style=”text-align: justify;”>Ketika berusia 22 tahun, dia menulis sejumlah karya pendek. Salah satunya yang masih bertahan hingga kini adalah Cartography, penelitiannya tentang perpetaan. Al-Biruni mengkaji berbagai macam peta yang ada pada saat itu dan menuliskan hasil studinya. Selain itu, dia membuat peta belahan bumi versinya sendiri.</li>
<li style=”text-align: justify;”>Pada tahun 1017 M hingga 1030 M, Al-Biruni mendapat kesempatan untuk melancong ke India bersama tim ekspedisi Sultan Mahmoud, Al Biruni tak henti-hentinya mengais ilmu pengetahuan. Di sana ia belajar tentang seluk beluk India, kebudayaan atau adat istiadat, tulisan, bahasa, dan sejarah mengenai India. Selain itu, ia juga belajar filsafat Hindu pada sarjana setempat. Al Biruni membukukan hasil karyanya itu ke dalam sebuah buku  yang berjudul Tarikhul Al Hindy. Karena hasil penelitiannya ini, Al Biruni dinobatkan sebagai  ‘antropolog pertama’ seantero jagad.. Selama 13 tahun, sang ilmuwan Muslim itu mengkaji tentang seluk beluk India hingga melahirkan apa yang disebut indologi atau studi tentang India. Di negeri Hindustan itu, Al-Biruni mengumpulkan beragam bahan bagi penelitian monumental yang dilakukannya. Dia mengorek dan menghimpun sejarah, kebiasaan, keyakian atau kepecayaan yang dianut masyarakat di sub-benua India (http://www.gaulislam.com/al-biruni-ilmuwan-pendiri-tiga-ilmu). Dari kegiatannya ini, Al Biruni tercatat sebagai seorang antropolog pertama.</li>
<li style=”text-align: justify;”>Pada saat menjelang akhir hayatnya, beliau dikunjungi oleh tetangganya yang merupakan ahli fiqih. Abu Rayhan masih dalam keadaan sadar, dan tatkala melihat sang ahli fiqih, dia bertanya kepadanya tentang hukum waris dan beberapa hal yang berhubungan dengannya. Sang ahli fiqih terkesima melihat seseorang yang sekarat masih tertarik dengan persoalan-persoalan tersebut. Abu Rayhan berkata, “Aku ingin bertanya kepadamu: mana yang lebih baik, meninggal dengan ilmu atau meninggal tanpanya?” Sang ahli fiqih menjawab, “Tentu saja lebih baik mengetahui dan kemudian meninggal.” Abu Rayhan berkata, “Untuk itulah aku menanyakan pertanyaanku yang pertama.” Beberapa saat setelah sang ahli fiqih tiba dirumahnya, tangisan duka mengatakan kepadanya bahwa Abu Rayhan telah meninggal dunia. (Murtaza Mutahhari: Khutbah Keagamaan) (http://umarhapsoro.blogdetik.com/index.php/archives/33)</li>
</ul>
<p style=”text-align: justify;”>Selama perjalanan hidupnya, beliau telah menghasilkan ratusan karya yang beberapa diantaranya masih dan sebagiannya sudah tidak ada lagi. Tidak dapat ternilai jasa-jasanya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan saat ini.
<img title=”sumber: http://en.wikipedia.org&#8221; src=”http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/62/Lunar_eclipse_al-Biruni.jpg/800px-Lunar_eclipse_al-Biruni.jpg&#8221; alt=”” width=”50%” height=”50%” align=”center” /></p>
<p style=”text-align: center;”><em>Sebuah ilustrasi fase bulan karya Abu Rayhan Muhammad Ibnu Ahmad Al-Biruni</em></p>

2 thoughts on “Al Biruni; Matematikawan, Fisikawan, Antropolog, Astronom, Ahli Farmasi, Ahli Geodesi, Filsuf, Pengembara, dan Guru

  1. Can I just say what a relief to find someone who amazingly knows what they’re talking about on the internet. You beyond a doubt know how to bring an issue to light and make it decisive. More people need to read this and understand this side of the story. I cant believe youre not more popular because you definitely have the gift.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s