Perubahan Iklim dan Konservasi Alam

Pencemaran udara pada umumnya terjadi secara alam, seperti letusan gunung berapi, badai debu, kebakaran hutan dan lain-lain. Namun yang terjadi saat ini, beban pemcemaran udara di atmosfer kian bertambah dengan semakin meningkatnya aktivitas industri, pertanian, dan aktivitas di daerah perkotaan. Cerobong asap dan mesin, limbahnya telah memenuhi langit. Senyawa kimia seperti klorofluorokarbon (CFC) yang biasa digunakan pada lemari es dan gas hasil pembakaran fosil, tidak hanya mencemari udara, tetapi benar-benar menghancurkan lapisan ozon (O3).

Cerobong asap
Aktivitas penebangan hutan, terutama di daerah tropis juga turut memberikan sumbangan besar bagi pencemaran udara. Upaya untuk mendapatkan keuntungan secara ekonomi, namun malah membuat kerusakan pada lingkungan sekitar. Pohon-pohon ditebang tanpa ada usaha konservasi alam atau penanaman kembali. Itu berarti penyerapan gas karbondioksida dari lingkungan oleh tumbuhan pun berkurang. Dari situlah, malapetaka perubahan iklim datang dan terus saja menjadi perhatian dunia akhir-akhir ini.

Peningkatan suhu rata-rata bumi oleh gas karbondioksida (CO2) saat ini berdampak pada berubahnya keadaan iklim global.Tidak hanya dalam cakupan ekosistem, tetapi lebih luas lagi yaitu dalam cakupan biosfer. Keadaan yang demikian ini, merupakan sebuah ancaman dan malapetaka bagi seluruh makhluk hidup termasuk manusia. Dua kutub bumi yang keduanya diselimuti oleh daratan es, sewaktu-waktu dapat mencair dan menenggelamkan pulau-pulau. Selain itu, punahnya beberapa spesies juga menyebabkan terputusnya rantai yang pada akhirnya mengganggu kesetimbangan ekosistem.

Dalam menghadapi akibat dari perubahan iklim global ini, salah satu usaha yang perlu dilakukan adalah penghijauan di daerah-daerah hutan tropis terutama, karena dari sinilah ozon (O3) banyak dihasilkan. Indonesia, Brasil, dan Kongo, adalah negara yang memiliki hutan tropis terbesar di dunia. Tiga negara tersebut akan mendapatkan bantuan dari program PBB guna mengurangi emisi di negara berkembang. Program ini bertajuk REDD atau Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation in Developing Countries. Hal ini didasarkan pada hasil kesepakatan konferensi perubahan iklim internasional yang diadakan di Cancun, Meksiko akhir tahun 2010 kemarin.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat penebangan dan kerusakan hutan tertinggi di dunia. Kerusakan hutan terjadi di mana-mana, tanpa memperhatikan kelangsungan ekosistem dan satwa yang ada di dalamnya. Laju kerusakan hutan pada tahun 1985-1997 tercatat 1,6 juta hektar per tahun, sedangkan pada tahun 1997-2000 menjadi 3,8 juta hektar per tahun. Lalu, bagaimana dengan saat ini? Tahun 2007 tercatat,ada 574 kasus kejahatan terhadap hutan. Di tahun berikutnya, jumlah kasus turun menjadi 404 kasus. Dari kasus-kasus yang tercatat ini, ternyata hanyalah pelaku kecil saja yang banyak diperiksa.Yang memprihatinkan lagi, adalah sebanyak 64-83 persen kayu hasil tebangan adalah berstatus illegal logging. Kemudian, apakah usaha pencanangan beberbagai program penghijauan ini cukup efektif? Memang, salah satu usaha yang paling tepat saat ini adalah dengan penghijauan yang berkelanjutan, namun, seharusnya ditunjang dengan penegakan hukum yang tegas terhadap para perusak hutan. Agar program-program yang telah dicanangkan dapat berjalan lancar sebagaimana mestinya. Jika hal tersebut tidak dilakukan, maka sangat mungkin suatu saat kita akan kehilangan beberapa satwa endemik yang kita miliki.

Kelangsungan hidup beberapa satwa endemik atau asli Indonesia saat ini sedang terancam. Dari beberapa sumber menyebutkan bahwa satwa-satwa tersebut tergolong “endangered” bahkan di antaranya tergolong “critically endangered” atau hampir punah. Berikut ini daftar beberapa spesies tersebut.

  • Dermochelys coriacea (penyu belimbing)
  • Orcaella brevirostris (pesut mahakam)
  • Spizaetus bartelsi (elang jawa)
  • Macrocephalon maleo (maleo)
  • Panthera tigris sumatrae (harimau Sumatra)
  • Elephas maximus (gajah Sumatra)
  • Bubalus depressicornis (anoa)
  • Nasalis larvatus (bekantan)
  • Rhinoceros sondaicus (badak jawa)
  • Tarsius tarsier (kuskus)
  • SELAMATKAN MEREKA!!!!

    Artikel Terkait

  • PENTINGNYA KESADARAN DAN KEPEDULIAN TERHADAP LINGKUNGAN DI ERA GLOBALISASI
  • APA YANG DIHASILKAN DI KOPENHAGEN?
  • TEKNOLOGI SEDERHANA: LUBANG RESAPAN BIOPORI DAN UPAYA PENANGGULANGAN KRISIS CADANGAN AIR
  • kode html di belakang artikel ini (html code behind this article):

    <a href=”https://nurhidayanto09.files.wordpress.com/2011/01/pencemaran.png”><img title=”Pencemaran” src=”https://nurhidayanto09.files.wordpress.com/2011/01/pencemaran.png?w=300&#8243; alt=”” width=”300″ height=”229″ /></a> Pencemaran udara pada umumnya terjadi secara alam, seperti letusan gunung berapi, badai debu, kebakaran hutan dan lain-lain. Namun yang terjadi saat ini, beban pemcemaran udara di atmosfer kian bertambah dengan semakin meningkatnya aktivitas industri, pertanian, dan aktivitas di daerah perkotaan. Cerobong asap dan mesin, limbahnya telah memenuhi langit. Senyawa kimia seperti klorofluorokarbon (CFC) yang biasa digunakan pada lemari es dan gas hasil pembakaran fosil, tidak hanya mencemari udara, tetapi benar-benar menghancurkan lapisan ozon (O<sub>3</sub>).
    <div style=”overflow: yes; width: 50%; border: 10px ridge lime; padding: 20px;”><img src=”http://www.gambargratis.com/wp-content/uploads/2010/03/Polusi-Udara.jpg&#8221; alt=”Cerobong asap” align=”left” />
    <strong>Cerobong</strong> yang dahulu dianggap sebagai lambang kemakmuran. Kini, orang melihatnya sebagi peringatan tentang kerusakan yang ditimbulkannya pada atmosfer bumi.</div>
    Aktivitas penebangan hutan, terutama di daerah tropis juga turut memberikan sumbangan besar bagi pencemaran udara. Upaya untuk mendapatkan keuntungan secara ekonomi, namun malah membuat kerusakan pada lingkungan sekitar. Pohon-pohon ditebang tanpa ada usaha konservasi alam atau penanaman kembali. Itu berarti penyerapan gas karbondioksida dari lingkungan oleh tumbuhan pun berkurang. Dari situlah, malapetaka <a href=”http://blogor.org”>perubahan iklim</a> datang dan terus saja menjadi perhatian dunia akhir-akhir ini. 

    Peningkatan suhu rata-rata bumi oleh gas karbondioksida (CO<sub>2</sub>) saat ini berdampak pada berubahnya keadaan iklim global.Tidak hanya dalam cakupan ekosistem, tetapi lebih luas lagi yaitu dalam cakupan biosfer. Keadaan yang demikian ini, merupakan sebuah ancaman dan malapetaka bagi seluruh makhluk hidup termasuk manusia. Dua kutub bumi yang keduanya diselimuti oleh daratan es, sewaktu-waktu dapat mencair dan menenggelamkan pulau-pulau. Selain itu, punahnya beberapa spesies juga menyebabkan terputusnya rantai yang pada akhirnya mengganggu kesetimbangan ekosistem.

    Dalam menghadapi akibat dari <a href=”http://blogor.org”>perubahan iklim</a> global ini, salah satu usaha yang perlu dilakukan adalah penghijauan di daerah-daerah hutan tropis terutama, karena dari sinilah ozon (O<sub>3</sub>) banyak dihasilkan. Indonesia, Brasil, dan Kongo, adalah negara yang memiliki hutan tropis terbesar di dunia. Tiga negara tersebut akan mendapatkan bantuan dari program PBB guna mengurangi emisi di negara berkembang. Program ini bertajuk REDD atau <em>Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation in Developing Countries</em>. Hal ini didasarkan pada hasil kesepakatan konferensi <a href=”http://blogor.org”>perubahan iklim</a> internasional yang diadakan di Cancun, Meksiko akhir tahun 2010 kemarin.

    Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat penebangan dan kerusakan hutan tertinggi di dunia. Kerusakan hutan terjadi di mana-mana, tanpa memperhatikan kelangsungan ekosistem dan satwa yang ada di dalamnya. Laju kerusakan hutan pada tahun 1985-1997 tercatat 1,6 juta hektar per tahun, sedangkan pada tahun 1997-2000 menjadi 3,8 juta hektar per tahun. Lalu, bagaimana dengan saat ini? Tahun 2007 tercatat,ada 574 kasus kejahatan terhadap hutan. Di tahun berikutnya, jumlah kasus turun menjadi 404 kasus. Dari kasus-kasus yang tercatat ini, ternyata hanyalah pelaku kecil saja yang banyak diperiksa.Yang memprihatinkan lagi, adalah sebanyak 64-83 persen kayu hasil tebangan adalah berstatus illegal logging. Kemudian, apakah usaha pencanangan beberbagai program penghijauan ini cukup efektif? Memang,  salah satu usaha yang paling tepat saat ini adalah dengan penghijauan yang berkelanjutan, namun, seharusnya  ditunjang dengan penegakan hukum yang tegas terhadap para perusak hutan. Agar program-program yang telah dicanangkan dapat berjalan lancar sebagaimana mestinya. Jika hal tersebut tidak dilakukan, maka sangat mungkin suatu saat kita akan kehilangan beberapa satwa endemik yang kita miliki.

    Kelangsungan hidup beberapa satwa endemik atau asli Indonesia saat ini sedang terancam. Dari beberapa sumber menyebutkan bahwa satwa-satwa tersebut tergolong “<em>endangered</em>” bahkan di antaranya tergolong “<em>critically endangered</em>” atau hampir punah. Berikut ini daftar beberapa spesies tersebut.
    <table cellspacing=”12″ cellpadding=”5″ align=”center”>
    <tbody>
    <tr>
    <td>
    <li><em>Dermochelys coriacea</em> <a href=”http://4.bp.blogspot.com/_U2ErskTp618/S12y-oyKG-I/AAAAAAAAAAc/qlQ_-MRKhCI/s320/penyu+belimbing.jpg”>(penyu belimbing)</a></li>
    </td>
    <td>
    <li><em>Orcaella brevirostris</em> <a href=”https://nurhidayanto09.files.wordpress.com/2009/07/pesut2.jpg?w=150&amp;h=104″>(pesut mahakam)</a></li>
    </td>
    </tr>
    <tr>
    <td>
    <li><em>Spizaetus bartelsi</em> <a href=”https://nurhidayanto09.files.wordpress.com/2009/07/elang-jawa-indrakila.jpg?w=129&amp;h=150″>(elang jawa)</a></li>
    </td>
    <td>
    <li><em>Macrocephalon maleo</em> <a href=”http://www.kidnesia.com/var/gramedia/storage/images/media/images/maleo/482496-1-ind-ID/maleo_medium.jpg”>(maleo)</a></li&gt;
    </td>
    </tr>
    <tr>
    <td>
    <li><em>Panthera tigris sumatrae</em> <a href=”http://almujaddid.files.wordpress.com/2007/12/tiger-rest.jpg”>(harimau Sumatra)</a></li>
    </td>
    <td>
    <li><em>Elephas maximus</em> <a href=”http://3.bp.blogspot.com/_0C3gi-Ych0M/SPivpqWKQWI/AAAAAAAABAE/GCRk8XcQPIM/s400/sumatra+elephant.jpg”>(gajah Sumatra)</a></li>
    </td>
    </tr>
    <tr>
    <td>
    <li><em>Bubalus depressicornis</em> <a href=”http://animal.discovery.com/guides/endangered/mammals/gallery/anoa.jpg”>(anoa)</a></li&gt;
    </td>
    <td>
    <li><em>Nasalis larvatus</em> <a href=”http://www.tribunkaltim.co.id/photo/2008/08/42e1a6cc2cba4d52b4965e393742e904.jpg”>(bekantan)</a></li&gt;
    </td>
    </tr>
    <tr>
    <td>
    <li><em>Rhinoceros sondaicus</em> <a href=”http://rol.republika.co.id/images/news/2008/11/20081120124635.jpg”>(badak jawa)</a></li>
    </td>
    <td>
    <li><em>Tarsius tarsier</em> <a href=”http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:JZlZyFMtb0BBLM:http://tolweb.org/tree/ToLimages/616685330_ac1b7f036c_o.jpg”>(kuskus)</a></li&gt;
    </td>
    </tr>
    </tbody>
    </table>
    <big><strong>SELAMATKAN MEREKA!!!!</strong></big>
    <h3>Artikel Terkait</h3>
    <li><a href=”https://nurhidayanto09.wordpress.com/2009/07/03/pentingnya-kesadaran-dan-kepedulian-terhadap-lingkungan-di-era-globalisasi/”>PENTINGNYA KESADARAN DAN KEPEDULIAN TERHADAP LINGKUNGAN DI ERA GLOBALISASI</a></li>
    <li><a href=”https://nurhidayanto09.wordpress.com/2010/02/21/apa-yang-dihasilkan-di-kopenhagen/”>APA YANG DIHASILKAN DI KOPENHAGEN?</a></li>
    <li><a href=”https://nurhidayanto09.wordpress.com/2010/03/15/teknologi-sederhana-lubang-resapan-biopori-dan-upaya-penanggulangan-krisis-cadangan-air/”>TEKNOLOGI SEDERHANA: LUBANG RESAPAN BIOPORI DAN UPAYA PENANGGULANGAN KRISIS CADANGAN AIR</a></li>

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s