heartbeat bassdrum LF | most elite soldier | Janissari Turki Utsmani | دَوْلَتِ عَلِيّهٔ عُثمَانِیّه‎

blue-mosque

If we look at history, as far back as organized warfare can be seen, there has been attempts to enrage soldiers into battle by beating drums first slowly (consistent with heart beat) and then more quickly as troops enter battle. The sound of the drums is low frequency and is as high intensity as the instrument would allow at the time.

-Bart P. Billings, Ph.D. (FEELING THE MUSIC CAN BE DANGEROUS TO YOUR HEALTH”©) / http://www.omnisonic.com/bbillings.html

 

The Turkish janissaries military corps had included since the 14th century bands called mehter or mehterân which, like many other earlier military bands in Asia featured a high proportion of drums, cymbals, and gongs, along with trumpets and shawms. The high level of noise was pertinent to their function of playing on the battlefield to inspire the soldiers. The focus in these bands was on percussion. A fullmehterân could include several bass drums, multiple pairs of cymbals, small kettledrums, triangles, tambourines, and one or more Turkish crescents. –

 

The heart sounds are noises generated by beating heart and the resultant flow of blood through it. This also called heartbeat. …………………………… the heartbeat sounds like bassdrum, which provide important information about the condition of the heart

-e-Study Guide for: The Language of Medicine: Medicine, Medicine/ https://books.google.co.id/books?id=zB9D8vVeo0MC&pg=PT479&lpg=PT479&dq=heartbeat+frequency+bass+drum+sound&source=bl&ots=GSTK1CCa1A&sig=CeYavChU5TNf6dXvTZZryzeTk0U&hl=en&sa=X&redir_esc=y#v=onepage&q=heartbeat%20frequency%20bass%20drum%20sound&f=false

 

The Janissary Corps was created in 1326 as the official royal guard of the Ottoman Turk rulers. Spanning a five hundred year existence, the Janissaries were greatly feared and respected. Throughout the centuries, growing musical interest within the Corps manifested itself in a group of instrumental performers specifically trained to assist this select group of fighters. Only the absolute cessation of the Corps could indicate that the colors were either lost or furled in retreat, signifying the battle was over. Thus, the Janissary Band was born with the objective of developing martial music to its most effective state. This music attracted the attention of Europe’s armies, and by the second decade of the eighteenth century, August II of Poland had acquired a complete Turkish military band – a gift from the Sultan of Turkey.

THE ROLE OF TURKISH PERCUSSION IN THE HISTORY AND DEVELOPMENT OF THE ORCHESTRAL PERCUSSION SECTION by D. Doran Bugg /http://etd.lsu.edu/docs/available/etd-0903103-205546/unrestricted/Bugg_thesis.pdf

 

 

Luasnya imperium Turki Usmani tidak lepas dari perjuangan para pasukan Utsmaniyah yang pada kala itu dianggap sebagai pasukan terkuat di dunia. Salah satu pasukan andalan Turki Utsmani adalah pasukan elite yang disebut Yeniçeri atau Janissari. Artinya, “Pasukan Baru’”. Janissari merupakan salah satu korps utama pasukan Angkatan Darat (Infanteri) Utsmaniyah pada saat itu. Pasukan ini memiliki kemampuan perang khusus. Tugasnya menjaga keamanan seorang sultan.

Pasukan elite tersebut pernah menjadi salah satu pasukan pengamanan kepala pemerintahan (secret service) terbaik di dunia pada saat itu. Selain kemampuan bertarung, Janissari dikenal memiliki kemampuan penggunaan senapan api pertama. Janissari muncul dari sebuah gagasan brilian dalam strategi kemiliteran dunia. Ide itu muncul saat Sultan ketiga Turki Utsmani, Murad I (1326-1389 M) berkuasa. Sultan Murad I terkenal sebagai sosok yang taat, pemberani, dan dermawan. Ia menerapkan sebuah sistem rekrutmen pasukan yang dinilai kontroversial, namun cukup brilian. Sultan melakukan Devsirme atau merekrut calon tentara potensial dari remaja lelaki Kristen di daerah penaklukan wilayah Balkan.

Para remaja tangguh ini kemudian diislamkan lalu dididik secara militer. Pendidikan yang keras membuat mereka terlatih dalam perang, juga memiliki kemampuan khusus sebagai pengawal pribadi sultan. “Sultan Murad I menetapkan pedoman ketat dalam memilih calon untuk Jannisari,” ujar Micah Azzir, seorang sejarawan Turki dari Istanbul yang melakukan penelitian tekait Janissari.

Ia mengungkapkan latar belakang Sultan Murad I merekrut pasukan dengan cara tersebut karena rapuhnya tentara Utsmaniyah pada saat itu. Maklum, pasukan Turki kala itu berasal dari berbagai suku taklukan. Minimnya pendidikan militer membuat kesetiaan mereka masih kuat kepada para pemimpin suku masing-masing. Sedangkan di sisi lain, para pemimpin mereka sering kali melakukan pemberontakan terhadap sultan.

Karenanya, Sultan Murad berpikir ia membutuhkan kesetiaan sebagai kunci utama para sultan untukmempersatukan daerah-daerah taklukan. Para Janissari ini tunduk pada aturan ketat, membatasi kebebasan mereka dan menuntut standar moral yang tinggi. Ini membuat mereka sebagai pasukan elite pemimpin negara terbaik pada masanya.

“Mereka ditempa berbagai kemampuan keilmuan, mental, dan fisik, dilatih selama delapan tahun memanah, bermain pedang, menunggang kuda, gulat, angkat besi, hingga menggunakan senjata api pertama,” kata Azzir memaparkan. Mereka menjalani pendidikan militer di sekolah terbaik (Acemi Oglan) khusus Janissari di Enderun. Di sekolah ini, taruna muda dipilih sesuai bakat keilmuan mereka, seperti bersenjata, pemanah, artileri, ahli senapan, hingga insinyur, seniman, dan ulama. Namun yang membedakan, katanya, mereka dilarang untuk berjanggut dan hanya memelihara kumis.

Mereka dilatih tetap untuk perang, dilarang keras minum alkohol, berjudi, bahkan sebagian memilih tidak menikah. Kandidat terbaik akan dikirim ke istana sultan. Di sana,  mereka akan dibentuk sebagai pengawal elite utama Jannisari. Sedangkan, sebagian lain akan menjadi pasukan cadangan yang akan dipekerjakan sementara di bawah pengawasan Kesultanan Utsmaniyah sebagai pegawai pemerintahan hingga tenaga terampil lainnya.

Janissari, Pasukan Elite Sultan Turki Utsmani

Beberapa ahli hukum Ottoman mencoba menjustifikasi bahwa sistem Devshirme ini legal dengan alasan bahwa leluhur anak2 yg direkrut itu adalah orang taklukan dan mereka (org Slav & Albania) baru memeluk agama Kristen setelah kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dengan keyakinan bahwa dgn merekrut mereka dan konversi mereka menjadi Muslim maka akan menyelamatkan mereka dari neraka. Berbeda dari Inkuisisi Spanyol yg menerapkan ide konversi ini secara brutal sehingga menimbulkan perlawanan dari para Muslim dan Yahudi Andalusia, Devshirme seringkali diikuti oleh keluarga Kristen secara sukarela karena memberikan janji dan harapan akan kehidupan yg lebih baik. Namun sistem ini banyak mendapat banyak pertentangan dari para ulama pada masa itu, karena menganggap bahwa sistem ini merupakan suatu bentuk kesewenang2an dari penguasa dan tidak seharusnya penguasa menganggap para Kafir Dzimmi sebagai properti pribadinya.

Janissari / Yeniçeri (Pasukan yg paling ditakuti di Eropa Abad 15-16) / (http://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000005010023/janissaries–janissari–yenieri—yeniceriler–janitscharen–sebuah-kompilasi/)

Capture

janissary-google image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s