Belajar ilmu Hadits: masih B-E-L-a-a-j-ar: shalat iftitah (rak’atain khafifatain)

 

Hadits I

عن عائشة, قالت : “كان رسول الله صلى الله عليه وسلم, إذا قام من الليل ليصلي, افتتح صلاته بركعتين خفيفتين” (رواه مسلم في صحيحة : كتاب صلاة المسافرين وقصرها: “باب الدعاء في صلاة الليل وقيامه” حديث رقم: 767)

Dari Aisyah radhiallahu’anha katanya: “Adalah Rasulullah ﷺ apabila bangun di malam hari untuk melakukan salat, beliau membuka salatnya dengan dua rakaat ringan (iftitah)”. HR. Muslim

 

Hadits II

عن أبي هريرة, عن النبي صلى الله عليه وسلم, قال: إذا قام أحدكم من الليل, فليفتتح صلاته بركعتين خفيفتين”ز (رواه مسلم في صحيحة: كتاب صلاة المسافرين وقصرها: “باب الدعاء في صلاة الليل و قيامه” حديث رقم: 768)

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Dari Nabi ﷺ bersabda: “Jika salah seorang dari kalian bangun di malam hari, maka hendaknya ia membuka salatnya dengan dua rakaat ringan (iftitah)”. HR. Muslim

 

Hadits III

عن أبي هريرة, قال: : “كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا قام من الليل يتهجد صلى ركعتين خفيفتين” (رواه أبو عوانة في مستخرجه: مبتدأ أبواب في المساجد وما فيها… : باب إجاب ركعتين خفيفتين للقائم … حديث رقم: 1772)

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu katanya: “Adalah Rasulullah ﷺ apabila bangun di malam hari bertahajud, salat dua rakaat ringan”. HR. Abu ‘Awanah

 

Hadits IV

عن الحجاج بن عمرو المازني, قال: “أيحسب أحدكم إذا قام من الليل يصلى حتى يصبح أن قد تهجد, إنما التهجد الصلاة بعد رقدة, ثم الصلاة بعد رقدة: ثم الصلاة بعد رقدة: تلك كانت صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم” (رواه الطبراني في المعجم الأوسط: باب الميم “من اسمه مطلب” حديث رقم: 8896)

Dari Hajjaj bin Amr al-Mazini radhiallahu’anhu katanya: “Apakah salah seorang dari kalian mengira ketika ia berdiri untuk salat di malam hari sampai pagi, berarti ia telah melakukan salat tahajud? Sesungguhnya yang disebut salat tahajud adalah salat yang dilakukan setelah tidur, salat yang dilakukan setelah tidur, salat yang dilakukan setelah tidur. Itulah salat tahajud Rasulullah ﷺ”. HR. Tabrani

 

Keterangan Otentisitas 4 hadits

Hadits I dan II: Hadits sahih karena riwayat dari Imam Muslim

Hadits III: Hadits hasan, karena seluruh perawinya tsiqah (dipercaya) kecuali Sulaiman bin Hayyan. Kata Imam Ibnu Hajar: Shoduq (banyak jujurnya). Lihat Taqrib al-Tahdzib

Hadits IV: Hadits hasan, karena seluruh perawinya tsiqah (dipercaya) kecuali Ibnu Luhai’ah (Abdullah bin Luhai’ah). Kata Imam Ibnu Hajar: Shoduq (banyak jujurnya)….. Lihat Taqrib al-Tahdzib

Kesimpulan: 4 hadits di atas semua bisa dijadikan sebagai hujjah/argumentasi/dalil

 

Penjelasan makna hadis:

  • Hadits I dan II di atas menjelaskan kepada kita tentang disunahkannya sholat iftitah 2 rakaat sebelum salat malam,
  • dan yang dimaksud dengan salat malam adalah salat tahajud seperti keterangan dalam hadis III.
  • Adapun pengertian salat tahajud adalah salat sunah yang dikerjakan setelah bangun tidur di malam hari seperti keterangan dalam hadis IV.

 

Adapun hikmah dari disunahkannya dua rakaat iftitah sebelum salat malam/tahajud adalah: sebagai pemanasan setelah bangun tidur agar lebih semangat dalam melaksanakan salat tahajud sebagaimana perkataan Imam Nawawi dalam kitabnya al-Minhaj Syarah Shohih Muslim ketika mengomentari hadis I dan II. Sedangkan menurut Syekh ‘Utsaimin: agar lepas ikatan tali setan yang ketiga dengan dua raka’at iftitah.

Adapun pemahaman melaksanakan dua rakaat iftitah sebelum tarawih memiliki beberapa kelemahan, bahkan bisa dikatakan sebagai perbuatan bid’ah (tidak sunah) sebagaimana pendapat Syekh ‘Utsaimin dalam salah satu fatwanya:

وسئل فضيلته: هل السنة في التراويح ان تفتح في ركعتين خفيفتين كصلاة القيام ا م لا؟؟

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin ditanya mengenai apakah termasuk sunah Nabi dalam salat tarawih membukanya dengan dua rakaat ringan sebagaimana salat tahajud?

أجاب : لا, ليس هذا هو السنة, لأن صلاة القيام تفتح بركعتين خفيفتين حيث ان الشيطان اذا نام الانسان عقد على قافيته ثلاث عقد, فاذا قام وذكر الله انحلت عقدة فاذا توضأ انحلت الثانية فاذا صلى انحلت الثالثة ولهذا كان مشروعا تخفيف الركعتين الأوليين من قيام الليل ليكون ذلك اسرع فيحلّ العقد.

Jawaban beliau, “Tidak, itu tidak sesuai dengan sunah Nabi ﷺ karena salat tahajud itu dibuka dengan dua rakaat ringan karena jika seorang itu tidur maka setan memasang tiga ikatan pada tengkuknya. Jika orang tersebut bangun dan berdzikir mengingat Allah maka lepaslah satu ikatan. Jika dia berwudhu maka lepaslah ikatan yang kedua. Jika dia mengerjakan salat maka lepaslah ikatan ketiga. Oleh karena itu dituntunkan untuk mengerjakan dua rakaat tersebut dengan cepat agar semakin cepat hilangnya ikatan setan tersebut.” [Arbain Sualan di Fiqh Shiyam wa Fadhli Qiyam]

Inilah beberapa kelemahan tersebut:

  1. Dalil mengenai salat tarawih sebagai qiyamul lail (salat malam) adalah dalil umum yang didasarkan pada hadis sahih tentang keutamaan qiyamu Ramadhan dengan lafaz: من قام ايمانا وحتسابا……… (Barang siapa berdiri salat di bulan Ramadhan atas dasar iman dan berharap pahala Allah). Sedangkan dalil mengenai dua rakaat iftitah adalah khusus untuk salat tahajud, karena makna qiyamu Ramadhan bisa mencakup dua pengertian yaitu: tarawih, jika dilakukan sebelum tidur dan tahajud, jika dilakukan setelah tidur. Sedangkan dalil iftitah adalah khusus untuk tahajud atau yang setelah tidur, sedangkan dalam riwayat salat tarawih tidak satupun ditemukan dalil yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah melakukan iftitah sebelum tarawih, terlebih tarawih yang pernah dilakukan Rasulullah ﷺ hanya tiga hari secara berjamaah dan setelah itu hingga wafatnya beliau tidak pernah melakukannya lagi karena takut diwajibkan. Karena itu tidak dapat menganalogikan dalil khusus untuk amalan yang dalilnya bersifat umum sebagaimana dalam kaidah usul fiqih bahwa dalil yang khusus tetap dalam kekhususannya. Hal ini seperti dalil yang mengkhususkan memiliki istri lebih dari empat hanya untuk Rasulullah ﷺ, maka tidak boleh umatnya melakukan hal yang sama dengan dalih mengikuti sunah Rasul ﷺ.
  2. Belum pernah ditemukan dalam berbagai kitab fiqih baik yang klasik maupun kontemporer bab tentang “salat dua rakaat iftitah sebelum tarawih”.
  3. Salat dua rakaat iftitah jika dikerjakan sebelum tarawih, maka tidak sesuai dengan hikmah disunahkannya seperti pada salat tahajud yaitu sebagai pemanasan atau pengusir setan. Karena sebelum tarawih sudah didahului dengan berbagai salat yaitu: salat Isya’ dan Ba’diyah yang cukup sebagai pemanasan.
  4. Jika tidak ada dalil yang pasti (sahih), maka sebaiknya ditinggalkan karena khawatir menjerumuskan pada perbuatan bid’ah yang dilarang dan membingungkan umat yang awam yang hanya bisa berbuat taklid buta yang berakibat menimbulkan perpecahan.

والله أعلم بالصواب

Ditulis ulang dari

الفقير الى عفو ربّه

توفق الرحمن Lc.

معلم في معهد علي بن أبي طالب بجامعة المحمدية يوكياكرتا

dengan beberapa perubahan J